Selamat Membaca dan Jangan Lupa Isikan Komentar Anda Ya.....
Barangsiapa belajar ilmu figh tanpa belajar tassawuf maka ia adalah fasiq. Siapa saja yang belajar Ilmu Tassawuf tanpa belajar Ilmu Figh maka ia adalah Zindiq, dan siapa saja yang mengumpulkan keduanya, maka ia adalah ahli Hakikat (Syeikh Al Fasi, Qawaid Al-Tasawwuf)

Friday, 28 March 2014

Wasiat Syeikh Asy Syadzilli: Perjalanan Dunia (Bab. 2)

Ceritasufi - Berpesan Syeikh Asy Syadzilli kepada umat Islam:

Lepaskanlah dirimu dari berlebihan terhadap cinta dunia, tinggakanlah untuk terus menerus bermaksiat, langgengkanlah pada masalah rahmat laduniyah (dari sisi Allah), dan mohonlah pertolongan melalui rahmat itu pada segala tindakan, serta janganlah hatimu bergantung dengan sesuatu, maka engkau termasuk orang-orang yang  sangat mendalam (dan benar) dalam ilmu, dimana rahasia batin  dan ilmu tidak pernah hilang.

Apabila muncul gangguan hatimu berupa bisikan maksiat dan dunia, lemparkanlah bisikan itu di bawah dua telapak  kakimu sebagai sesuatu yang hina, sekaligus sebagai refeksi zuhud, lalu penuhilah hatimu dengan ilmu dan petunjuk.

Janganlah  engkau menunda-nunda, yang  bisa membuatmu tenggelam  dalam kegelapannya dan anggota  badanmu terlepas di sana, lalu engkau harus memeluknya, baik  melalui hasrat, fikiran, kehendak dan gerakan. Kala itu, lubuk hati menjadi terombang-ambing, dan seorang hamba “bagaikan telah disesatkan oleh syetan di pesawangan yang menakutkan  dalam keadaan bingung, dia mempunyai sahabat-sahabat yang  memanggilnya kepada jalan yang  lurus (dengan mengatakan):  “Marilah ikuti kami,” katakanlah,  “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya)  petunjuk.” 

Sedangkan petunjuk itu tidak akan pernah ada kecuali pada orang yang bertaqwa; tiada orang yang bertaqwa kecuali orang itu kontra terhadap dunia. Tiada orang yang kontra terhadap dunia kecuali orang yang menghina dirinya. Tidak ada orang yang menghina dirinya kecuali orang yang tahu akan dirinya. Tidak pula tahu orang yang tahu akan dirinya kecuali orang yang tahu Allah. 

Tidak ada yang mengenal Allah kecuali orang  yang mencintai-Nya, dan tidak ada orang yang mencintai-Nya  kecuali orang yang telah dipilih dan dikasihi Allah, dan antara  dirinya terhalang dari hawwa dan nafsunya. 

Ucapkanah: “Ya Allah, wahai Yang Maha Kuasa, wahai Yang Maha Menghendaki, wahai Yang maha Perkasa, wahai Yang Maha Bijaksana, wahai Yang Maha  Terpuji, wahai Tuhan, wahai Sang Raja, wahai Yang Ada, wahai  Yang Memberi Petunjuk wahai Yang Maha Memberi  nikmat. Limpahkanlah kepadaku rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya  Engkau Maha Memberi Anugerah, dan Engkau memberi nikmat pada hamba-Mu dengan nikmat agama  dan nikmat hidayah, ”menuju  jalan yang lurus, jalan Allah yang Dia pemilik apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah hanya kepada Allah lah  segala urusan kembali,” melalui kemuliaan Nama Agung ini. Amin.”

Apabila engkau berhadapan dengan suatu yang menjadi bagian dari dunia maka bacalah: “Wahai Yang Maha Kuat, wahai Yang Maha Perkasa, wahai Yang  Maha Mengetahui, wahai Yang Maha Kuasa, wahai Yang Maha  Mendengar, wahai Yang Maha Melihat.”

Manakala tambahan bekal tiba, berupa bekal dunia maupun akhirat, maka bacalah: ”Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami dari karunia keutamaan-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah.”(Q.s. At-Taubah: 59)

Wahai orang yang berhasrat pada jalan selamat-Nya yang beruntung menuju hadirat Kehidupan-Nya, jauhilah memperbanyak diri atas apa yang diwenangkan Allah kepadamu. Tinggalkan apa yang tidak masuk dibawah ilmumu dari apa yang telah dihalalkan oleh Allah bagimu.

Bergegaslah menuju kewajiban-kewajibanmu, dan tinggalkan  kesibukan manusia pada umumnya untuk menjaga batinmu. Maka dalam hal meninggalkan memperbanyak diri, merupakan zuhud, dan meninggalkan hal-hal yang tidak termasuk dalam ilmumu adalah wara’. Renungkan sabda Rasulullah Saw.  
”Kebaikan adalah yang menentramkan jiwa dan menentramkan kalbu. Sedangkan dosa adalah sesuatu yang merajut-rajut dalam jiwa dan membawa keraguan dalam dada, walaupun  manusia lain telah menasehatimu dengan yang selain dosa itu.”

Maka fahamilah. Sibuk menjaga rahasia batin berarti menghormati hakikat-hakikat keimanan.

Jika engkau seorang pedagang yang jeli, maka tinggalkanlah kemauanmu untuk pasrah pada Kehendak-Nya, disertai ridha pada seluruh aturan-Nya. “Dan siapakah yang lebih baik daripada Allah sebagai hukum bagi orang-orang yang yakin?” 

Hadist ini dapat mencukupkan bagimu, ”Dunia itu haramnya adalah siksa, dan halalnya adalah hisab.” 

Dunia yang tak ada hisab kelak di akhirat dan tak ada hijab ketika di dunia, adalah dunia yang bagi pemiliknya tidak mengandung  hasrat kehendak sebelum adanya dunia itu, dan tidak pula mengandung hasrat ketika dunia menyertainya, tidak pula kecewa ketika dunia hilang dari sisinya. Sedangkan kebebasan mulia hanya bagi orang yang meraih dunia secara berhadapan, tanpa sedikit pun pengaruh yang memperdayai hatinya (karena dunia itu).

Aku pernah bermimpi melihat Abu Bakr ash-Shiddiq, lalu beliau berkata padaku, “Tahukah engkau apa tanda keluarnya cinta duniawi dari dalam kalbu?” Aku bertanya, “Apa itu?” Beliau menjawab, “Meninggalkannya ketika ada, dan merasa ringan ketika dunia tak ada.”

Artikel Terkait:

Post a Comment
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

PRAY TIME

Wasiat Syeikh Asy Syadzilli: Perjalanan Dunia (Bab. 2)

Ceritasufi - Berpesan Syeikh Asy Syadzilli kepada umat Islam:

Lepaskanlah dirimu dari berlebihan terhadap cinta dunia, tinggakanlah untuk terus menerus bermaksiat, langgengkanlah pada masalah rahmat laduniyah (dari sisi Allah), dan mohonlah pertolongan melalui rahmat itu pada segala tindakan, serta janganlah hatimu bergantung dengan sesuatu, maka engkau termasuk orang-orang yang  sangat mendalam (dan benar) dalam ilmu, dimana rahasia batin  dan ilmu tidak pernah hilang.

Apabila muncul gangguan hatimu berupa bisikan maksiat dan dunia, lemparkanlah bisikan itu di bawah dua telapak  kakimu sebagai sesuatu yang hina, sekaligus sebagai refeksi zuhud, lalu penuhilah hatimu dengan ilmu dan petunjuk.

Janganlah  engkau menunda-nunda, yang  bisa membuatmu tenggelam  dalam kegelapannya dan anggota  badanmu terlepas di sana, lalu engkau harus memeluknya, baik  melalui hasrat, fikiran, kehendak dan gerakan. Kala itu, lubuk hati menjadi terombang-ambing, dan seorang hamba “bagaikan telah disesatkan oleh syetan di pesawangan yang menakutkan  dalam keadaan bingung, dia mempunyai sahabat-sahabat yang  memanggilnya kepada jalan yang  lurus (dengan mengatakan):  “Marilah ikuti kami,” katakanlah,  “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya)  petunjuk.” 

Sedangkan petunjuk itu tidak akan pernah ada kecuali pada orang yang bertaqwa; tiada orang yang bertaqwa kecuali orang itu kontra terhadap dunia. Tiada orang yang kontra terhadap dunia kecuali orang yang menghina dirinya. Tidak ada orang yang menghina dirinya kecuali orang yang tahu akan dirinya. Tidak pula tahu orang yang tahu akan dirinya kecuali orang yang tahu Allah. 

Tidak ada yang mengenal Allah kecuali orang  yang mencintai-Nya, dan tidak ada orang yang mencintai-Nya  kecuali orang yang telah dipilih dan dikasihi Allah, dan antara  dirinya terhalang dari hawwa dan nafsunya. 

Ucapkanah: “Ya Allah, wahai Yang Maha Kuasa, wahai Yang Maha Menghendaki, wahai Yang maha Perkasa, wahai Yang Maha Bijaksana, wahai Yang Maha  Terpuji, wahai Tuhan, wahai Sang Raja, wahai Yang Ada, wahai  Yang Memberi Petunjuk wahai Yang Maha Memberi  nikmat. Limpahkanlah kepadaku rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya  Engkau Maha Memberi Anugerah, dan Engkau memberi nikmat pada hamba-Mu dengan nikmat agama  dan nikmat hidayah, ”menuju  jalan yang lurus, jalan Allah yang Dia pemilik apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah hanya kepada Allah lah  segala urusan kembali,” melalui kemuliaan Nama Agung ini. Amin.”

Apabila engkau berhadapan dengan suatu yang menjadi bagian dari dunia maka bacalah: “Wahai Yang Maha Kuat, wahai Yang Maha Perkasa, wahai Yang  Maha Mengetahui, wahai Yang Maha Kuasa, wahai Yang Maha  Mendengar, wahai Yang Maha Melihat.”

Manakala tambahan bekal tiba, berupa bekal dunia maupun akhirat, maka bacalah: ”Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami dari karunia keutamaan-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah.”(Q.s. At-Taubah: 59)

Wahai orang yang berhasrat pada jalan selamat-Nya yang beruntung menuju hadirat Kehidupan-Nya, jauhilah memperbanyak diri atas apa yang diwenangkan Allah kepadamu. Tinggalkan apa yang tidak masuk dibawah ilmumu dari apa yang telah dihalalkan oleh Allah bagimu.

Bergegaslah menuju kewajiban-kewajibanmu, dan tinggalkan  kesibukan manusia pada umumnya untuk menjaga batinmu. Maka dalam hal meninggalkan memperbanyak diri, merupakan zuhud, dan meninggalkan hal-hal yang tidak termasuk dalam ilmumu adalah wara’. Renungkan sabda Rasulullah Saw.  
”Kebaikan adalah yang menentramkan jiwa dan menentramkan kalbu. Sedangkan dosa adalah sesuatu yang merajut-rajut dalam jiwa dan membawa keraguan dalam dada, walaupun  manusia lain telah menasehatimu dengan yang selain dosa itu.”

Maka fahamilah. Sibuk menjaga rahasia batin berarti menghormati hakikat-hakikat keimanan.

Jika engkau seorang pedagang yang jeli, maka tinggalkanlah kemauanmu untuk pasrah pada Kehendak-Nya, disertai ridha pada seluruh aturan-Nya. “Dan siapakah yang lebih baik daripada Allah sebagai hukum bagi orang-orang yang yakin?” 

Hadist ini dapat mencukupkan bagimu, ”Dunia itu haramnya adalah siksa, dan halalnya adalah hisab.” 

Dunia yang tak ada hisab kelak di akhirat dan tak ada hijab ketika di dunia, adalah dunia yang bagi pemiliknya tidak mengandung  hasrat kehendak sebelum adanya dunia itu, dan tidak pula mengandung hasrat ketika dunia menyertainya, tidak pula kecewa ketika dunia hilang dari sisinya. Sedangkan kebebasan mulia hanya bagi orang yang meraih dunia secara berhadapan, tanpa sedikit pun pengaruh yang memperdayai hatinya (karena dunia itu).

Aku pernah bermimpi melihat Abu Bakr ash-Shiddiq, lalu beliau berkata padaku, “Tahukah engkau apa tanda keluarnya cinta duniawi dari dalam kalbu?” Aku bertanya, “Apa itu?” Beliau menjawab, “Meninggalkannya ketika ada, dan merasa ringan ketika dunia tak ada.”

0 comments:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews