Selamat Membaca dan Jangan Lupa Isikan Komentar Anda Ya.....
Barangsiapa belajar ilmu figh tanpa belajar tassawuf maka ia adalah fasiq. Siapa saja yang belajar Ilmu Tassawuf tanpa belajar Ilmu Figh maka ia adalah Zindiq, dan siapa saja yang mengumpulkan keduanya, maka ia adalah ahli Hakikat (Syeikh Al Fasi, Qawaid Al-Tasawwuf)

Tuesday, 18 December 2012

Tassawuf Antara Dipuji dan Dihujat (Part 1)

Ceritasufi - Sebuah pemikiran dalam menterjemahkan Islam dalam individu dan ummay melalui Pengakuan hati, Ucajaran hingga Prakteknya selalu menjadi pembicaraan tanpa batas zaman. Beginilah Tasawwuf diperdebatkan. Sebagian melebihkan hingga Tassawuf menjadi tumpah di meja noktah Sejarah Islam. Begitu juga penghhujat yang dengan alasannya menghujat Tasawwuf. 

Teringat saat masa sekolah dulu, saat booming nya perdebatan Islam dan Agam lain, seorang ulama Islam dari tanah Hidustan yang mashur akan pemahaman Injil nya, berpesan bahwa Islam bukanlah agama yang berlebihan dalam sesuatu. Baik itu berlebihan dalam hal buruk ataupun baik. Sungguh Islam mengajarkan kita untuk Keep Wise and Steady dalam menilai tiap tindakan dan situasi.

Hingga akhirnya sikap berlebihan ini menjadi salah satu pintu masuk syetan dalam mengguliungkan martabat manusia ke martabat hewani.  Sampailah pada suatu perkatan  bahwa "Terlalu memuji dan terlalu meremehkan" sangat tidak dianjurkan dalam beragama.

Sebagai tamsil sikap pertengahan Islam di ajarkan Rosulullah saw dalam memelihara janggut atau jenggot.  Sebagaimana Ibnu Umar meriwayatkan dari Rosulullah saw berkata:

"Berbedalah kalian dengan orang-orang musyrikin, panjangkanlah janggut 
dan pendekkanlah kumis." (HR. Bukhari) 

Pembeda. Itulah salah satu yang dianjurkan Rosulullah saw. Membedakan antara Islam dan selain Islam. 

"Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka" (HR. Ahmad)
 
Tulisan dibawah ini adalah buah pikir seorang Cendikiawan dan Ulama Besar Islam abad 20. Sejak usia 10 tahun telah hafal Alquran yang juga seorang Founding Father (pencetus) Fakultas Syariah di Universitas Qatar dan Pusat Kajian Sejarah dan Sunnah Nabi (media.isnet.org).

Beliau adalah Yusuf bin Abdullah bin Ali bin Yusuf yang biasa dikenal dengan Dr. Yusuf Qardawi yang telah menulis hampir 125 buku dan 55 buku yang telah di terjemahkan ke Bahasa Indonesia. (biografi.rumus.web.id)

Untuk melengkapi Srtikel terdahulu tentang Munculnya Tarekat (Part 1), dan Munculnya Tarekat (Part 2) , Cerita Sufi akan melenyajikan pandangan tentang Tasawwuf berikut ini:

Pertanyaan:
 
Kapan lahir dan berkembangnya Ilmu Tasawwuf, dan apa pula keistimewaanya?

Apa alasan orang-orang yang menolaknya dan bagaimana dalilnya bagi orang-orang yang  memujinya?

Jawab:
Masalah tasawuf ini pernah dibahas, tetapi ada baiknya untuk diulang  kembali,  sebab  masalah  ini  sangat penting  untuk menyatakan suatu hakikat dan kebenaran yang hilang di antara orang-orang  yang mencela dan memuji tasawuf tersebut secara menyeluruh.
Dengan penjelasan  yang  lebih  luas  lagi,  sekiranya  dapat membuka  tabir  yang  menyelimuti  bagian  yang  cerah  ini, sebagai teladan bagi orang yang hendak meninjau ke arah ini, misalnya ahli suluk yang berjalan ke arah Allah.

Di   zaman  para  sahabat  Nabi  saw,  kaum  Muslimin  serta pengikutnya mempelajari Tasawwuf, agama Islam dan hukum-hukum Islam secara keseluruhan, tanpa kecuali.

Tidak satu   bagian   pun   yang   tidak   dipelajari  dan dipraktekkan, baik lahir maupun batin; urusan  dunia  maupun akhirat;   masalah  pribadi  maupun  kemasyarakatan,  bahkan masalah  yang  ada  hubungannya  dengan   penggunaan   akal, perkembangan  jiwa  dan  jasmani,  mendapat  perhatian pula. Timbulnya perubahan dan  adanya  kesulitan  dalam  kehidupan baru   yang   dihadapinya   adalah   akibat   pengaruh  yang ditimbulkan  dari  dalam   dan   luar.   Dan   juga   adanya bangsa-bangsa   yang   berbeda  pandangan dan  alirannya  dalam masyarakat yang semakin hari kian bertambah besar.

Dalam  hal  ini,  terdapat  orang-orang  yang   perhatiannya dibatasi pada bagian akal, yaitu Ahlulkalam, Mu'tazilah. Ada yang perhatiannya dibatasi pada  bagian  lahirnya  (luarnya) atau   hukum-hukumnya  saja,  yaitu  Ahli  Fiqih.  Ada  pula orang-orang yang perhatiannya  pada  materi  dan  foya-foya, misalnya orang-orang kaya, dan sebagainya.

Maka,  pada  saat  itu,  timbullah  orang-orang  sufi  yang perhatiannya terbatas pada  bagian  ubudiah  saja,  terutama pada   bagian   peningkatan   dan   penghayatan  jiwa  untuk mendapatkan   keridhaan   Allah   dan    keselamatan    dari kemurkaan-Nya.   Demi   tercapainya  tujuan  tersebut,  maka diharuskan zuhud atau hidup sederhana  dan  mengurangi  hawa nafsu.  Ini diambil dari pengertian syariat dan takwa kepada Allah.

Disamping itu, kemudian timbul hal baru, yaitu cinta  kepada Allah  (mahabatullah). Sebagaimana Siti Rabi'ah Al-Adawiyah, Abu Yazid Al-Basthami, dan Sulaiman Ad-Darani, mereka adalah tokoh-tokoh sufi. Mereka berpendapat sebagai berikut:

"Bahwa ketaatan dan kewajiban bukan karena takut pada neraka, dan bukan keinginan akan surga dan kenikmatannya, tetapi demi cintanya kepada Allah dan mencari keridhaan-Nya, supaya dekat dengan-Nya."

Dalam syairnya, Siti Rabi'ah Al-Adawiyah telah berkata:

"Semua orang yang menyembah Allah karena takut  akan neraka dan ingin menikmati surga. Kalau aku tidak demikian, aku menyembah Allah, karena aku cinta kepada Allah dan ingin ridhaNya."

Kemudian  pandangan  mereka  itu  berubah,  dari  pendidikan akhlak  dan  latihan  jiwa, berubah menjadi paham-paham baru atas Islam yang menyimpang, yaitu filsafat; dan yang  paling menonjol  ialah Al-Ghaulu bil Hulul wa Wahdatul-Wujud (paham bersatunya hamba dengan Allah).

Paham ini juga yang dianut  oleh  Al-Hallaj,  seorang  tokoh Sufi,  sehingga dihukum mati tahun 309 H. karena ia berkata, "Saya adalah Tuhan."

Paham Hulul berarti Allah bersemayam di  dalam  makhluk-Nya, sama dengan paham kaum Nasrani terhadap Isa Al-Masih.

Banyak  di  kalangan  para  Sufi  sendiri yang menolak paham Al-Hallaj itu. Dan hal ini juga yang  menyebabkan  kemarahan para fuqaha khususnya dan kaum Muslimin pada umumnya.

Filsafat  ini  sangat  berbahaya, karena dapat menghilangkan rasa tanggung jawab  dan  beranggapan  bahwa  semua  manusia sama,  baik  yang jahat maupun yang baik; dan yang bertauhid maupun yang tidak, semua makhluk menjadi tempat bagi Tajalli (kasyaf) Al-Haq, yaitu Allah SAW.

Dalam  keadaan  yang  demikian,  tentu  timbul  asumsi  yang bermacam-macam, ada yang menilai  masalah  tasawuf  tersebut secara  amat  fanatik  dengan  memuji  mereka dan menganggap semua ajarannya itu baik sekali. Ada pula  yang  mencelanya, menganggap  semua ajaran mereka tidak benar, dan beranggapan aliran tasawuf itu diambil dari Agama MasehiAgama  Budha, dan lain-lainnya.


Wallhu'alam





Sumber : media.isnet.org

Note: Dengan Beberapa Perubahan pada judul dan kalimat.

Artikel Terkait:

Post a Comment
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

PRAY TIME

Tassawuf Antara Dipuji dan Dihujat (Part 1)

Ceritasufi - Sebuah pemikiran dalam menterjemahkan Islam dalam individu dan ummay melalui Pengakuan hati, Ucajaran hingga Prakteknya selalu menjadi pembicaraan tanpa batas zaman. Beginilah Tasawwuf diperdebatkan. Sebagian melebihkan hingga Tassawuf menjadi tumpah di meja noktah Sejarah Islam. Begitu juga penghhujat yang dengan alasannya menghujat Tasawwuf. 

Teringat saat masa sekolah dulu, saat booming nya perdebatan Islam dan Agam lain, seorang ulama Islam dari tanah Hidustan yang mashur akan pemahaman Injil nya, berpesan bahwa Islam bukanlah agama yang berlebihan dalam sesuatu. Baik itu berlebihan dalam hal buruk ataupun baik. Sungguh Islam mengajarkan kita untuk Keep Wise and Steady dalam menilai tiap tindakan dan situasi.

Hingga akhirnya sikap berlebihan ini menjadi salah satu pintu masuk syetan dalam mengguliungkan martabat manusia ke martabat hewani.  Sampailah pada suatu perkatan  bahwa "Terlalu memuji dan terlalu meremehkan" sangat tidak dianjurkan dalam beragama.

Sebagai tamsil sikap pertengahan Islam di ajarkan Rosulullah saw dalam memelihara janggut atau jenggot.  Sebagaimana Ibnu Umar meriwayatkan dari Rosulullah saw berkata:

"Berbedalah kalian dengan orang-orang musyrikin, panjangkanlah janggut 
dan pendekkanlah kumis." (HR. Bukhari) 

Pembeda. Itulah salah satu yang dianjurkan Rosulullah saw. Membedakan antara Islam dan selain Islam. 

"Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka" (HR. Ahmad)
 
Tulisan dibawah ini adalah buah pikir seorang Cendikiawan dan Ulama Besar Islam abad 20. Sejak usia 10 tahun telah hafal Alquran yang juga seorang Founding Father (pencetus) Fakultas Syariah di Universitas Qatar dan Pusat Kajian Sejarah dan Sunnah Nabi (media.isnet.org).

Beliau adalah Yusuf bin Abdullah bin Ali bin Yusuf yang biasa dikenal dengan Dr. Yusuf Qardawi yang telah menulis hampir 125 buku dan 55 buku yang telah di terjemahkan ke Bahasa Indonesia. (biografi.rumus.web.id)

Untuk melengkapi Srtikel terdahulu tentang Munculnya Tarekat (Part 1), dan Munculnya Tarekat (Part 2) , Cerita Sufi akan melenyajikan pandangan tentang Tasawwuf berikut ini:

Pertanyaan:
 
Kapan lahir dan berkembangnya Ilmu Tasawwuf, dan apa pula keistimewaanya?

Apa alasan orang-orang yang menolaknya dan bagaimana dalilnya bagi orang-orang yang  memujinya?

Jawab:
Masalah tasawuf ini pernah dibahas, tetapi ada baiknya untuk diulang  kembali,  sebab  masalah  ini  sangat penting  untuk menyatakan suatu hakikat dan kebenaran yang hilang di antara orang-orang  yang mencela dan memuji tasawuf tersebut secara menyeluruh.
Dengan penjelasan  yang  lebih  luas  lagi,  sekiranya  dapat membuka  tabir  yang  menyelimuti  bagian  yang  cerah  ini, sebagai teladan bagi orang yang hendak meninjau ke arah ini, misalnya ahli suluk yang berjalan ke arah Allah.

Di   zaman  para  sahabat  Nabi  saw,  kaum  Muslimin  serta pengikutnya mempelajari Tasawwuf, agama Islam dan hukum-hukum Islam secara keseluruhan, tanpa kecuali.

Tidak satu   bagian   pun   yang   tidak   dipelajari  dan dipraktekkan, baik lahir maupun batin; urusan  dunia  maupun akhirat;   masalah  pribadi  maupun  kemasyarakatan,  bahkan masalah  yang  ada  hubungannya  dengan   penggunaan   akal, perkembangan  jiwa  dan  jasmani,  mendapat  perhatian pula. Timbulnya perubahan dan  adanya  kesulitan  dalam  kehidupan baru   yang   dihadapinya   adalah   akibat   pengaruh  yang ditimbulkan  dari  dalam   dan   luar.   Dan   juga   adanya bangsa-bangsa   yang   berbeda  pandangan dan  alirannya  dalam masyarakat yang semakin hari kian bertambah besar.

Dalam  hal  ini,  terdapat  orang-orang  yang   perhatiannya dibatasi pada bagian akal, yaitu Ahlulkalam, Mu'tazilah. Ada yang perhatiannya dibatasi pada  bagian  lahirnya  (luarnya) atau   hukum-hukumnya  saja,  yaitu  Ahli  Fiqih.  Ada  pula orang-orang yang perhatiannya  pada  materi  dan  foya-foya, misalnya orang-orang kaya, dan sebagainya.

Maka,  pada  saat  itu,  timbullah  orang-orang  sufi  yang perhatiannya terbatas pada  bagian  ubudiah  saja,  terutama pada   bagian   peningkatan   dan   penghayatan  jiwa  untuk mendapatkan   keridhaan   Allah   dan    keselamatan    dari kemurkaan-Nya.   Demi   tercapainya  tujuan  tersebut,  maka diharuskan zuhud atau hidup sederhana  dan  mengurangi  hawa nafsu.  Ini diambil dari pengertian syariat dan takwa kepada Allah.

Disamping itu, kemudian timbul hal baru, yaitu cinta  kepada Allah  (mahabatullah). Sebagaimana Siti Rabi'ah Al-Adawiyah, Abu Yazid Al-Basthami, dan Sulaiman Ad-Darani, mereka adalah tokoh-tokoh sufi. Mereka berpendapat sebagai berikut:

"Bahwa ketaatan dan kewajiban bukan karena takut pada neraka, dan bukan keinginan akan surga dan kenikmatannya, tetapi demi cintanya kepada Allah dan mencari keridhaan-Nya, supaya dekat dengan-Nya."

Dalam syairnya, Siti Rabi'ah Al-Adawiyah telah berkata:

"Semua orang yang menyembah Allah karena takut  akan neraka dan ingin menikmati surga. Kalau aku tidak demikian, aku menyembah Allah, karena aku cinta kepada Allah dan ingin ridhaNya."

Kemudian  pandangan  mereka  itu  berubah,  dari  pendidikan akhlak  dan  latihan  jiwa, berubah menjadi paham-paham baru atas Islam yang menyimpang, yaitu filsafat; dan yang  paling menonjol  ialah Al-Ghaulu bil Hulul wa Wahdatul-Wujud (paham bersatunya hamba dengan Allah).

Paham ini juga yang dianut  oleh  Al-Hallaj,  seorang  tokoh Sufi,  sehingga dihukum mati tahun 309 H. karena ia berkata, "Saya adalah Tuhan."

Paham Hulul berarti Allah bersemayam di  dalam  makhluk-Nya, sama dengan paham kaum Nasrani terhadap Isa Al-Masih.

Banyak  di  kalangan  para  Sufi  sendiri yang menolak paham Al-Hallaj itu. Dan hal ini juga yang  menyebabkan  kemarahan para fuqaha khususnya dan kaum Muslimin pada umumnya.

Filsafat  ini  sangat  berbahaya, karena dapat menghilangkan rasa tanggung jawab  dan  beranggapan  bahwa  semua  manusia sama,  baik  yang jahat maupun yang baik; dan yang bertauhid maupun yang tidak, semua makhluk menjadi tempat bagi Tajalli (kasyaf) Al-Haq, yaitu Allah SAW.

Dalam  keadaan  yang  demikian,  tentu  timbul  asumsi  yang bermacam-macam, ada yang menilai  masalah  tasawuf  tersebut secara  amat  fanatik  dengan  memuji  mereka dan menganggap semua ajarannya itu baik sekali. Ada pula  yang  mencelanya, menganggap  semua ajaran mereka tidak benar, dan beranggapan aliran tasawuf itu diambil dari Agama MasehiAgama  Budha, dan lain-lainnya.


Wallhu'alam





Sumber : media.isnet.org

Note: Dengan Beberapa Perubahan pada judul dan kalimat.

0 comments:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews