Selamat Membaca dan Jangan Lupa Isikan Komentar Anda Ya.....
Barangsiapa belajar ilmu figh tanpa belajar tassawuf maka ia adalah fasiq. Siapa saja yang belajar Ilmu Tassawuf tanpa belajar Ilmu Figh maka ia adalah Zindiq, dan siapa saja yang mengumpulkan keduanya, maka ia adalah ahli Hakikat (Syeikh Al Fasi, Qawaid Al-Tasawwuf)

Tuesday, 3 July 2012

Kisah Umar bin Khatab dan Sang Cucu

Ceritasufi-Saat itu tengah malam di kota Madinah. Kebanyakan orang telah lelap tertidur. Amirul Mukminin, Umar bin Khatab ra berjalan menyusuri lorong-lorong kota Madinah. Matanya yang liar menyusuri tiap lorong dalam kegelapan malam. Sahabat yang terkenal dengan kisah keperkasaannya ini terus menapak tiap sudut kota tanpa terlewat sedikitpun. Tugas ini adalah biasa baginya. Rutinitas setelah menjadi pemimpin Umat di Kota suci. Penerus perjuangan Rosulullah saw demi menjaga aturan dan tatanan Yang telah Allah gariskan lewat Rosulullah saw.
Kucuran keringat membasahi pakaian Umar ra. Pemimpin sunnah setelah Abu Bakar Siddiq ra berhenti sejenak karena lelah. Sayup terdengar percakapan antara ibu dan anak perempuannya dari balik sebuah rumah sederhana tak jauh dari tempat ia beristirahat.

"Nak, campurlah susu yang engkau perah tadi dengan air," kata sang ibu.
"Jangan, ibu. Amirul Mukminin sudah membuat aturan agar tidak menjual susu yang dicampur air," Jawab sang anak. "Tapi banyak orang yang melakukannya, Nak. Campurlah sedikit saja, Toh, Amirul Mukminin tidak mengetahuinya," kata sang ibu mencoba meyakinkan anaknya. "Ibu, Amirul Mukminin mungkin tidak mengetahuinya, Tapi Tuhan dari Amirul Mukminin pasti Maha Melihat," Tegas si anak menolak.

Mendengar percakapan itu, pria yang tak lain adalah Amirul Mukminin Umar bin Khatab berurai air matanya. Penakluk Persia, Mesir, Syam, Irak, Burqah, Tripoli (Bagian Barat), Azarbaijan, Jurjan, Basrah, Kuffah dan Kairo inipun terenyuh dengan jawaban anak perempuan tersebut. 

Subuh telah dekat. Ia pun bergegas meninggalkan rumah terus menuju mesjid dan mengimami umatnya. Perasaan ingin tahu terhadap keluarga itupun masih terus terbayang. Dipanggillah Ashim yang tak lain adalah anak beliau dan berkata, Wahai Ashim, sesungguhnya tadi malam ayah mendengar percakapan yang sangat istimewa. Maka pergilah kamu wahai anakku Asyim ke rumah fulanah dan selidikilah keluarganya.

Penyelidikan telah ia lakukan dan terus menghadap ayahanda nya. Berkatalah Umar bin Khatab kepada anak lelaki tercintanya, "Pergi dan temuilah mereka. Lamarlah anak gadisnya itu untuk menjadi istrimu. Insy Allah, kelak ia akan menjadi berkah kepadamu dan anak keturunanmu. Mudah-mudahan pula ia dapat memberi keturunan yang akan menjad pemimpin bangsa."

Maka, menikahlah Ashim bin Umar bin Khatab degan gadis tersebut. Dari pernikahan ini Amirul Mukminin mendapat cucu perempuan cantik yang diberi nama Laila yang nantinya dikenal dengan Ummi Ashim.

Suatu malam Umar bin Khatab bermimpi. Dalm mimpinya ia melihat seorang pemuda dari keturunannya, bernama Umar, dengan kening yang cacat karena luka. Pemuda ini memimpin umat Islam seperti dirinya memimpin memimpin umat Islam. Mimpi itu hanya diceritakan kepada keluarganya saja. Hingga saat terkahir umurnya, cerita ini tetap terpendam diantara keluarga Umar bin Khatab ra.

Tiba saatnya Tahun 644M, Pemimpin yang bergelar Bapaknya Singa, salah seorang laki-laki Islam cerdas itu terbunuh. Ummi Ashim turut hadir dalam pemakamannya. Kemudian Ummi Ashim hidup dimasa Usman bin Affan ra selama 12 Tahun hingga Khalifah Usman bin Affan ra pun terbunuh pada tahun 656 M. Hingga Ummi Ashim ikut menyaksikan tahun terbunuhnya Khalifah Terakhir Sahabat Rosulullah, Ali bin Abu Thalib ra pada setelah 5 tahun masa kekhalifahan terkahir hingga bertenggerlah Muawiyah, sang pendiri Dinasti Umayah.

(Kecerdasan Umar bin Khatab adalah keberaniannya hingga syaitan pun takut untuk melewati jalan yang telah ia lalui, dan dalam riwayat lain Al Hakim dan Thabari dari Ibnu Mas'ud berkata," Seandainya ilmu Umar bin Khatab ra diletakkan pada tepi timbangan yang satu dan seluruh ilmu penghuni bumi diletakkan di tepi timbangan yang lain, niscaya ilmu Umar bin Khatab ra lebih berat dibanding ilmu mereka. Mayoritas sahabat pun berpendapat bahwa Umar bin Khatab mengusai 9 dari 10 ilmu. Beliau juga terkenal dengan menghimpun Al-Quran menjadi mushaf, menetapkan tahun hijriyah sebagai kalender umat Islam, tidak lagi membagikan harta rampasan perang melainkan dengan memberikan gaji, membentuk kas Negara (Baitul Maal), menyatukan orang-orang yang melakukan sholat Tarawih dengan satu Imam, menciptakan Lembaga Peradilan, Perkantoran, Balai Pengobatan, Penginapan, memanfaatkan kapal laut untuk perdagangan, menetapkan hukum cambuk bagi peminum minuman keras sebanyak 80 kali, mencetak uang Dirham dan Pengauditan pejabat ) Source

Beberapa tahun kemudian, Ummi Ashim menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan. Abdul Aziz adalah Gubernur Mesir di era Khalifah abdul Malik bin Marwan (685-705M) yang meruoakan kakaknya. Abdul Malik bin Marwan adalah seorang saleh, ahli fiqih dan tafsir, serta raja yang baik terlepas dari permasalahan umat yang diwarisi oleh ayahnya (Marwan bin Hakam) saat itu.

Dari perkawinan itu lahirlah Umar bin Abdul Aziz. Beliau terlahir di Halawan, kampung yang terletak di wilayah Mesir pada tahun 61 Hijriyah. Umart kecil hidup di lingkungan istana dan kemewahan. saat masih kecil Umar mendapat kecelakaan. Tanpa sengaja, seekor kuda jantan menendangnya sehingga keningnya sobek dan tulang keningnya terlihat. Semua orang panik dan histeris, kecuali Abdul Aziz. Seketika, ia tersentak dan tersenyum seraya mengobati luka Umar kecil, dia berujar, Bergembiralah engkau wahai Ummi Ashim. Mimpi Umar bin Khattab Insya Allah terwujud, dialah anak dari keturunan Umayyah yang akan memperbaiki bangsa ini."

Artikel Terkait:

Post a Comment
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

PRAY TIME

Kisah Umar bin Khatab dan Sang Cucu

Ceritasufi-Saat itu tengah malam di kota Madinah. Kebanyakan orang telah lelap tertidur. Amirul Mukminin, Umar bin Khatab ra berjalan menyusuri lorong-lorong kota Madinah. Matanya yang liar menyusuri tiap lorong dalam kegelapan malam. Sahabat yang terkenal dengan kisah keperkasaannya ini terus menapak tiap sudut kota tanpa terlewat sedikitpun. Tugas ini adalah biasa baginya. Rutinitas setelah menjadi pemimpin Umat di Kota suci. Penerus perjuangan Rosulullah saw demi menjaga aturan dan tatanan Yang telah Allah gariskan lewat Rosulullah saw.
Kucuran keringat membasahi pakaian Umar ra. Pemimpin sunnah setelah Abu Bakar Siddiq ra berhenti sejenak karena lelah. Sayup terdengar percakapan antara ibu dan anak perempuannya dari balik sebuah rumah sederhana tak jauh dari tempat ia beristirahat.

"Nak, campurlah susu yang engkau perah tadi dengan air," kata sang ibu.
"Jangan, ibu. Amirul Mukminin sudah membuat aturan agar tidak menjual susu yang dicampur air," Jawab sang anak. "Tapi banyak orang yang melakukannya, Nak. Campurlah sedikit saja, Toh, Amirul Mukminin tidak mengetahuinya," kata sang ibu mencoba meyakinkan anaknya. "Ibu, Amirul Mukminin mungkin tidak mengetahuinya, Tapi Tuhan dari Amirul Mukminin pasti Maha Melihat," Tegas si anak menolak.

Mendengar percakapan itu, pria yang tak lain adalah Amirul Mukminin Umar bin Khatab berurai air matanya. Penakluk Persia, Mesir, Syam, Irak, Burqah, Tripoli (Bagian Barat), Azarbaijan, Jurjan, Basrah, Kuffah dan Kairo inipun terenyuh dengan jawaban anak perempuan tersebut. 

Subuh telah dekat. Ia pun bergegas meninggalkan rumah terus menuju mesjid dan mengimami umatnya. Perasaan ingin tahu terhadap keluarga itupun masih terus terbayang. Dipanggillah Ashim yang tak lain adalah anak beliau dan berkata, Wahai Ashim, sesungguhnya tadi malam ayah mendengar percakapan yang sangat istimewa. Maka pergilah kamu wahai anakku Asyim ke rumah fulanah dan selidikilah keluarganya.

Penyelidikan telah ia lakukan dan terus menghadap ayahanda nya. Berkatalah Umar bin Khatab kepada anak lelaki tercintanya, "Pergi dan temuilah mereka. Lamarlah anak gadisnya itu untuk menjadi istrimu. Insy Allah, kelak ia akan menjadi berkah kepadamu dan anak keturunanmu. Mudah-mudahan pula ia dapat memberi keturunan yang akan menjad pemimpin bangsa."

Maka, menikahlah Ashim bin Umar bin Khatab degan gadis tersebut. Dari pernikahan ini Amirul Mukminin mendapat cucu perempuan cantik yang diberi nama Laila yang nantinya dikenal dengan Ummi Ashim.

Suatu malam Umar bin Khatab bermimpi. Dalm mimpinya ia melihat seorang pemuda dari keturunannya, bernama Umar, dengan kening yang cacat karena luka. Pemuda ini memimpin umat Islam seperti dirinya memimpin memimpin umat Islam. Mimpi itu hanya diceritakan kepada keluarganya saja. Hingga saat terkahir umurnya, cerita ini tetap terpendam diantara keluarga Umar bin Khatab ra.

Tiba saatnya Tahun 644M, Pemimpin yang bergelar Bapaknya Singa, salah seorang laki-laki Islam cerdas itu terbunuh. Ummi Ashim turut hadir dalam pemakamannya. Kemudian Ummi Ashim hidup dimasa Usman bin Affan ra selama 12 Tahun hingga Khalifah Usman bin Affan ra pun terbunuh pada tahun 656 M. Hingga Ummi Ashim ikut menyaksikan tahun terbunuhnya Khalifah Terakhir Sahabat Rosulullah, Ali bin Abu Thalib ra pada setelah 5 tahun masa kekhalifahan terkahir hingga bertenggerlah Muawiyah, sang pendiri Dinasti Umayah.

(Kecerdasan Umar bin Khatab adalah keberaniannya hingga syaitan pun takut untuk melewati jalan yang telah ia lalui, dan dalam riwayat lain Al Hakim dan Thabari dari Ibnu Mas'ud berkata," Seandainya ilmu Umar bin Khatab ra diletakkan pada tepi timbangan yang satu dan seluruh ilmu penghuni bumi diletakkan di tepi timbangan yang lain, niscaya ilmu Umar bin Khatab ra lebih berat dibanding ilmu mereka. Mayoritas sahabat pun berpendapat bahwa Umar bin Khatab mengusai 9 dari 10 ilmu. Beliau juga terkenal dengan menghimpun Al-Quran menjadi mushaf, menetapkan tahun hijriyah sebagai kalender umat Islam, tidak lagi membagikan harta rampasan perang melainkan dengan memberikan gaji, membentuk kas Negara (Baitul Maal), menyatukan orang-orang yang melakukan sholat Tarawih dengan satu Imam, menciptakan Lembaga Peradilan, Perkantoran, Balai Pengobatan, Penginapan, memanfaatkan kapal laut untuk perdagangan, menetapkan hukum cambuk bagi peminum minuman keras sebanyak 80 kali, mencetak uang Dirham dan Pengauditan pejabat ) Source

Beberapa tahun kemudian, Ummi Ashim menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan. Abdul Aziz adalah Gubernur Mesir di era Khalifah abdul Malik bin Marwan (685-705M) yang meruoakan kakaknya. Abdul Malik bin Marwan adalah seorang saleh, ahli fiqih dan tafsir, serta raja yang baik terlepas dari permasalahan umat yang diwarisi oleh ayahnya (Marwan bin Hakam) saat itu.

Dari perkawinan itu lahirlah Umar bin Abdul Aziz. Beliau terlahir di Halawan, kampung yang terletak di wilayah Mesir pada tahun 61 Hijriyah. Umart kecil hidup di lingkungan istana dan kemewahan. saat masih kecil Umar mendapat kecelakaan. Tanpa sengaja, seekor kuda jantan menendangnya sehingga keningnya sobek dan tulang keningnya terlihat. Semua orang panik dan histeris, kecuali Abdul Aziz. Seketika, ia tersentak dan tersenyum seraya mengobati luka Umar kecil, dia berujar, Bergembiralah engkau wahai Ummi Ashim. Mimpi Umar bin Khattab Insya Allah terwujud, dialah anak dari keturunan Umayyah yang akan memperbaiki bangsa ini."

0 comments:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews