Selamat Membaca dan Jangan Lupa Isikan Komentar Anda Ya.....
Barangsiapa belajar ilmu figh tanpa belajar tassawuf maka ia adalah fasiq. Siapa saja yang belajar Ilmu Tassawuf tanpa belajar Ilmu Figh maka ia adalah Zindiq, dan siapa saja yang mengumpulkan keduanya, maka ia adalah ahli Hakikat (Syeikh Al Fasi, Qawaid Al-Tasawwuf)

Friday, 30 November 2012

Mengenal Islam di Jepang (Part 2): Kontak Islam dengan Jepang

Alquran Jepang
Lihat Huruf Kanji di samping
Ceritasufi - Sosiolog sejarah terkenal Jepang, Profesor Hajime Kobayashi, mengatakan bahwa tidak ada catatan khusus tentang kontak antara Islam dan Negara Jepang di era Pra-Meiji (1868 M). Islam di Jepang tercatat pada Era Meiji tepatnya tahun 1877 M saat biografi Nabi Muhammad (SAW) diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Namun perkenalan Islam saat itu hanya terbatas dalam keingin tahuan kaum intelektual Jepang dalam hal budaya dan sejarah Islam saja.

1. Kontak Islam dengan Jepang
Bangsa Jepang pada saat itu sangat bergantung pada Cina dan Eropa untuk informasi tentang dunia Islam. Secara resmi keterlibatan dengan dunia Islam dimulai pada akhir abad 19, yaitu setelah Kekaisaran Jepang mendekrasikan untuk membuka diri. Dikirimlah Delegasi ke Mesir, Turki dan Persia. Insiden Ertuğrul (1889) sehingga memperkuat hibungan diplomatik dengan Kekaisaran Ottoman, Turki.
Selama era Meiji dimulai pada tahun 1868, Jepang dan Kekaisaran Ottoman, dua negara merdeka di Asia, menjalin hubungan baik lewat pertukaran delegasi. Kekaisaran Otoman yang dipimpin oleh Sultan Abdul Hamid II mengirimkan Angkatan Laut, Ertugal, ke Jepang pada tahun 1889. Kapal dengan 609 orang mencapai pelabuhan Yokohama, Jepang pada tanggal 7 Juni 1890. Sayangnya Kapal itu terbalik di Pulau Kecil Oshima saat perjalanan pulang.  Kapal ini menenggelamkan 540 awal kapal termasuk Komandan Laksamana Osman Pasha, saudara Sultan Abdul Hamid II.

Menurut Dr Salih Mahdi S. Al-Samarrai, Direktur Islamic Centre Jepang (masih menjabat hingga sekarang), yang menghabiskan lima puluh tahun hidupnya di Jepang, mengatakan bahwa Shotaro Noda pernah menyumbang kepada Turki dan bahkan bertemu Sultan Abdul Hamid II. Pertemuan ini dimanfaatkan oleh Sultan Abdul Hamid II untuk mengajak Shotaro Noda menetap di Istanbul. Sebagai gantinya Shotaro Noda mengajar tentang Jepang kepada para pejabat di Kekaisaran Ottoman. 

Selama tinggal di Turki, Shotaro Noda bertemu Abdullah Guillaume, seorang Muslim berkebangsaan Inggris, Liverpool dan Shotaro Noda memeluk Islam diberi nama Abdul Haleem Noda.

Menurut peneliti Almarhum Abu Bakar Morimoto, seorang penulis Muslim Jepang, pemerintah Jepang pernah mengirim seorang pemuda cendikia Yamada Torajiro, 24 tahun ke Turki untuk tinggal di sana selama dua tahun dan akhirnya memeluk Islam dengan mengadopsi nama Muslim Abdul Khalil. 

Abubakar Morimoto berpendapat bahwa Torajiro Yamada sebagai muslim pertama Jepang. Sedangkan  Dr. Samarrai berpendapat Abdul Haleem Noda (Shotaro Noda)lah Muslim Jepang yang pertama dan Abdul Khalil Yamada kedua. Tentunya Pertentangan pendapat ini menjadikan penelitian lebih lanjut akan keakuratan kedua pendapat ini sangat dibutuhkan nantinya.

Selama periode ini (katakanlah dekade terakhir abad ke-19) sekelompok kecil pedagang Muslim India tinggal di Tokyo, Yokohama dan Kobe. Mereka dianggap sebagai komunitas Muslim pertama di Jepang.

Bersambung

Artikel Terkait:

Post a Comment
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

PRAY TIME

Mengenal Islam di Jepang (Part 2): Kontak Islam dengan Jepang

Alquran Jepang
Lihat Huruf Kanji di samping
Ceritasufi - Sosiolog sejarah terkenal Jepang, Profesor Hajime Kobayashi, mengatakan bahwa tidak ada catatan khusus tentang kontak antara Islam dan Negara Jepang di era Pra-Meiji (1868 M). Islam di Jepang tercatat pada Era Meiji tepatnya tahun 1877 M saat biografi Nabi Muhammad (SAW) diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Namun perkenalan Islam saat itu hanya terbatas dalam keingin tahuan kaum intelektual Jepang dalam hal budaya dan sejarah Islam saja.

1. Kontak Islam dengan Jepang
Bangsa Jepang pada saat itu sangat bergantung pada Cina dan Eropa untuk informasi tentang dunia Islam. Secara resmi keterlibatan dengan dunia Islam dimulai pada akhir abad 19, yaitu setelah Kekaisaran Jepang mendekrasikan untuk membuka diri. Dikirimlah Delegasi ke Mesir, Turki dan Persia. Insiden Ertuğrul (1889) sehingga memperkuat hibungan diplomatik dengan Kekaisaran Ottoman, Turki.
Selama era Meiji dimulai pada tahun 1868, Jepang dan Kekaisaran Ottoman, dua negara merdeka di Asia, menjalin hubungan baik lewat pertukaran delegasi. Kekaisaran Otoman yang dipimpin oleh Sultan Abdul Hamid II mengirimkan Angkatan Laut, Ertugal, ke Jepang pada tahun 1889. Kapal dengan 609 orang mencapai pelabuhan Yokohama, Jepang pada tanggal 7 Juni 1890. Sayangnya Kapal itu terbalik di Pulau Kecil Oshima saat perjalanan pulang.  Kapal ini menenggelamkan 540 awal kapal termasuk Komandan Laksamana Osman Pasha, saudara Sultan Abdul Hamid II.

Menurut Dr Salih Mahdi S. Al-Samarrai, Direktur Islamic Centre Jepang (masih menjabat hingga sekarang), yang menghabiskan lima puluh tahun hidupnya di Jepang, mengatakan bahwa Shotaro Noda pernah menyumbang kepada Turki dan bahkan bertemu Sultan Abdul Hamid II. Pertemuan ini dimanfaatkan oleh Sultan Abdul Hamid II untuk mengajak Shotaro Noda menetap di Istanbul. Sebagai gantinya Shotaro Noda mengajar tentang Jepang kepada para pejabat di Kekaisaran Ottoman. 

Selama tinggal di Turki, Shotaro Noda bertemu Abdullah Guillaume, seorang Muslim berkebangsaan Inggris, Liverpool dan Shotaro Noda memeluk Islam diberi nama Abdul Haleem Noda.

Menurut peneliti Almarhum Abu Bakar Morimoto, seorang penulis Muslim Jepang, pemerintah Jepang pernah mengirim seorang pemuda cendikia Yamada Torajiro, 24 tahun ke Turki untuk tinggal di sana selama dua tahun dan akhirnya memeluk Islam dengan mengadopsi nama Muslim Abdul Khalil. 

Abubakar Morimoto berpendapat bahwa Torajiro Yamada sebagai muslim pertama Jepang. Sedangkan  Dr. Samarrai berpendapat Abdul Haleem Noda (Shotaro Noda)lah Muslim Jepang yang pertama dan Abdul Khalil Yamada kedua. Tentunya Pertentangan pendapat ini menjadikan penelitian lebih lanjut akan keakuratan kedua pendapat ini sangat dibutuhkan nantinya.

Selama periode ini (katakanlah dekade terakhir abad ke-19) sekelompok kecil pedagang Muslim India tinggal di Tokyo, Yokohama dan Kobe. Mereka dianggap sebagai komunitas Muslim pertama di Jepang.

Bersambung

0 comments:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews