Selamat Membaca dan Jangan Lupa Isikan Komentar Anda Ya.....
Barangsiapa belajar ilmu figh tanpa belajar tassawuf maka ia adalah fasiq. Siapa saja yang belajar Ilmu Tassawuf tanpa belajar Ilmu Figh maka ia adalah Zindiq, dan siapa saja yang mengumpulkan keduanya, maka ia adalah ahli Hakikat (Syeikh Al Fasi, Qawaid Al-Tasawwuf)

Monday, 12 November 2012

Kebiasaan Rosulullah SAW : Mengerjakan Pekerjaan Rumah

Ceritasufi - Manusia mulia yang satu-satunya berdampingan namanya dengan Allah Azza wa Jalla adalah Rosulullah saw. Tak pelak, ini menjadi keharusan bagi tiap ummat Islam, Muslim yang ingin menjalani hidupnya dengan penuh keberkahan hanya dengan mengikuti jalan beliau.

Banyak kebiasaan Rosulullah saw yang dapat kita jadikan tauladan dalam kondisi senang dan susah, si kaya dan si miskin, orang kota ataupun desa. Tak menjadi pengecualiaan adalah manusia di Luar muslim pun banyak yang telah mengangkat harkat dan martabatnya dengan menjadikan kebiasaan Rosulullah SAW dalam kesehariannya.
Masa yang penuh keterbukaan dengan limpahan pemikiran awal yang bersandar pada kebendaan (materi) sering menghukumkan diri kita dengan mengangkat pemikiran dan konsep yang telah jauh dari tata surya Rosulullah (materialisme, sekularisme, dan isme-isme lainnya). Insyaallah lain waktu akan kita review sedikit bagaimana pemikiran Islam di tataran masyarakat telah masuk dalam lingkaran dunia semata.

Sebagai seorang laki-laki, Ayah, pemimpin sholat, panglima perang, kepala negara (presiden - dalam Islam disebut Rosulullah kemudian berpindah menjadi khalifah) tidak menjadikan beliau besar kepala.


Beliau adalah kepala rumah tangga. Seperti layaknya bapak dan ayah kebanyakan beliau tetap hidup normal. Bedanya dengan ayah sekarang, beliau tak sungkan membantu istrinya mengerjakan pekerjaan rumah. Bahkan tak jarang beliau mengerjakan sendiri pekerjaannya. 


Tak terbanyak betapa sibuknya dengan semua posisi di tangan beliau, tapi tetap saja Ia dapat mengerjakan semua itu tanpa keluhan dan semacamnya.

Betapa banyaknya ayah dan orang tua yang menelantarkan kondisi rumah hanya karena atas nama "AKU SEORANG SUAMI DI RUMAH INI". 

Marilah kia simak beberapa riwayat yang di kabarkan oleh Al Aswad bin Yazid yang bertanya kepada Aisyah Radhiyallhu anhu tentang apa yang biasa dilakukan Nabi di rumah.
Aisyah menjawab,

"Beliau turut membantu pekerjaan keluarganya. Dan apabila datang waktu shalat, beliau segera pergi shalat." (HR. Al Bukhari - Kitab Al Adab Bab Kaifa Yakun Ar Rajul fi Ahlih 10/385).

Sungguh menjadi pemandangan yang sangat mengagumkan, semua posisi ditempati sebagai pemimpin kala di luar rumah, tapi ringan tangan saat di rumah, layaknya orang kebanyakan. 

Hingga termaktub dari mulut Rosulullah saw yang diriwayatkan oleh Ad Dailami bahwa buantuanmu terhadap istrimu adalah sdekah.

Satu lagi hikmah sedekah yang dapat kita ambil pelajaran dalam kehidupan beliau. TAk perlu kaya menunggu sedekah. Tak harus materi yang di ganajar sedekah. Dengan meringankan tangan saat di rumah oleh suami pun telah menjadi sedekah baginya.

NAmun demikian, bahwa seorang suami tidak harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah. Melainkan cukup sekedar sesuai yang dibutuhkan dan bisa di lakukan. Karena selain kemampuan dan waktu suami sangat terbatas untuk melakukan, sejatinay yang bertanggung jawab masalah rumah tentunya adalah seorang istri.

Artikel Terkait:

Post a Comment
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

PRAY TIME

Kebiasaan Rosulullah SAW : Mengerjakan Pekerjaan Rumah

Ceritasufi - Manusia mulia yang satu-satunya berdampingan namanya dengan Allah Azza wa Jalla adalah Rosulullah saw. Tak pelak, ini menjadi keharusan bagi tiap ummat Islam, Muslim yang ingin menjalani hidupnya dengan penuh keberkahan hanya dengan mengikuti jalan beliau.

Banyak kebiasaan Rosulullah saw yang dapat kita jadikan tauladan dalam kondisi senang dan susah, si kaya dan si miskin, orang kota ataupun desa. Tak menjadi pengecualiaan adalah manusia di Luar muslim pun banyak yang telah mengangkat harkat dan martabatnya dengan menjadikan kebiasaan Rosulullah SAW dalam kesehariannya.
Masa yang penuh keterbukaan dengan limpahan pemikiran awal yang bersandar pada kebendaan (materi) sering menghukumkan diri kita dengan mengangkat pemikiran dan konsep yang telah jauh dari tata surya Rosulullah (materialisme, sekularisme, dan isme-isme lainnya). Insyaallah lain waktu akan kita review sedikit bagaimana pemikiran Islam di tataran masyarakat telah masuk dalam lingkaran dunia semata.

Sebagai seorang laki-laki, Ayah, pemimpin sholat, panglima perang, kepala negara (presiden - dalam Islam disebut Rosulullah kemudian berpindah menjadi khalifah) tidak menjadikan beliau besar kepala.


Beliau adalah kepala rumah tangga. Seperti layaknya bapak dan ayah kebanyakan beliau tetap hidup normal. Bedanya dengan ayah sekarang, beliau tak sungkan membantu istrinya mengerjakan pekerjaan rumah. Bahkan tak jarang beliau mengerjakan sendiri pekerjaannya. 


Tak terbanyak betapa sibuknya dengan semua posisi di tangan beliau, tapi tetap saja Ia dapat mengerjakan semua itu tanpa keluhan dan semacamnya.

Betapa banyaknya ayah dan orang tua yang menelantarkan kondisi rumah hanya karena atas nama "AKU SEORANG SUAMI DI RUMAH INI". 

Marilah kia simak beberapa riwayat yang di kabarkan oleh Al Aswad bin Yazid yang bertanya kepada Aisyah Radhiyallhu anhu tentang apa yang biasa dilakukan Nabi di rumah.
Aisyah menjawab,

"Beliau turut membantu pekerjaan keluarganya. Dan apabila datang waktu shalat, beliau segera pergi shalat." (HR. Al Bukhari - Kitab Al Adab Bab Kaifa Yakun Ar Rajul fi Ahlih 10/385).

Sungguh menjadi pemandangan yang sangat mengagumkan, semua posisi ditempati sebagai pemimpin kala di luar rumah, tapi ringan tangan saat di rumah, layaknya orang kebanyakan. 

Hingga termaktub dari mulut Rosulullah saw yang diriwayatkan oleh Ad Dailami bahwa buantuanmu terhadap istrimu adalah sdekah.

Satu lagi hikmah sedekah yang dapat kita ambil pelajaran dalam kehidupan beliau. TAk perlu kaya menunggu sedekah. Tak harus materi yang di ganajar sedekah. Dengan meringankan tangan saat di rumah oleh suami pun telah menjadi sedekah baginya.

NAmun demikian, bahwa seorang suami tidak harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah. Melainkan cukup sekedar sesuai yang dibutuhkan dan bisa di lakukan. Karena selain kemampuan dan waktu suami sangat terbatas untuk melakukan, sejatinay yang bertanggung jawab masalah rumah tentunya adalah seorang istri.

0 comments:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews