Selamat Membaca dan Jangan Lupa Isikan Komentar Anda Ya.....
Barangsiapa belajar ilmu figh tanpa belajar tassawuf maka ia adalah fasiq. Siapa saja yang belajar Ilmu Tassawuf tanpa belajar Ilmu Figh maka ia adalah Zindiq, dan siapa saja yang mengumpulkan keduanya, maka ia adalah ahli Hakikat (Syeikh Al Fasi, Qawaid Al-Tasawwuf)

Wednesday, 8 February 2012

Tradisi Cium Tangan, Adakah Sandaran Dalam Islam?


Tradisi cium tangan. Label ini telah menjadi tradisi umat Islam. Saat masuk kerumah sepulang sekolah dan menemui ayah dan ibu kita langsung mencium tangan mereka. Ketemu paman, om-tante, dan orang yang lebih tua tentunya kita akan mencium tangan mereka. Selepas sholat dan mengaji kita senantiasa mencium tangan guru/ustadz. Banyak lagi aktifitas yang membuat kita harus mencium tangan. Tradisi? apakah itu sebenarnya?


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia tradisi dapat diartikan dengan adat kebiasaan turun-temurun (dr nenek moyang) yg masih dijalankan dl masyarakat. Dapat pula ia berarti penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yg telah ada merupakan yg paling baik dan benar.
Diakui oleh seorang Australia Emily Sullivan sewaktu mengikuti pertukaran guru 2011 dalam program Building Relations through Intercultural Dialogue and Growing Engagement (BRIDGE). Ia terheran-heran dengan tradisi mencium tangan saat mengajar di MAN 2 Jakarta.


"Saya melihat murid-murid Indonesia sangat menghormati guru mereka. Jujur, saya kaget dengan tradisi murid-murid mencium tangan saya sebagai bentuk penghormatan terhadap guru," tutur Emily Sullivan, seorang pengajar dari Our Lady of Sacred Heart College, Adelaide, di Jakarta.


Mari kita tinggalkan contoh tradisi diatas. Karena boleh jadi ini hanya sebuah tradisi kosong (tanpa sandaran dari Muhammad durrosulullah. Adakah sandaran mencium tangan atau hanya sekedar tradisi atau ajaran yang datang begitu saja? Atau mencium tangan hanya sebuah ritual penghormatan antara yang muda terhadap yang tua saja? Marilah kita simak beberapa riwayat berikut. Semoga menjadi sebuah enlightenment (pencerahan) penebal iman dan pencinta Tuhan Azza wa Jalla.


Anas bin Malik ra: "Ku lihat mereka berebutan menciumi telapak tangan nabi Muhammad SAW dan menaruhkan telapak tangan Beliau di wajah mereka, lalu kuikuti perbuatan mereka maka ketika kutaruh tangan Beliau di wajahku maka kurasakan tangan itu lebih sejuk dari es, dan tidak ada sutra yang lebih lembut dari telapak tangan Beliau dan tidak ada wewangian yang lebih wangi dari harumnya keringat Beliau”.


Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW datanglah para tamu kepada Anas bin Malik ra, seraya bertanya : “adakah tanganmu ini menyentuh kulit Rasulullah saw?”, maka Anas bin malik berkata : “iya”, maka mereka mengambil tangan Anas dan menciuminya, demi mengambil berkah dari tangan yang bersentuhan dengan nabi Muhammad SAW. (Adabul Mufrad oleh Imam Bukhari). 


Ibnu Majah meriwayatkan bahwa Muawiyah bin Jahimah as Sulami ingin pergi berjihad bersama Rasulullah shalallahu ‘alihi wa sallam lalu beliau mengatakan (kepadanya) : "Celakalah kau! Apakah ibumu masih hidup?" la menjawab; "Ya! Wahai Rasulullah!" Rasulullah bersabda : "Celakalah kau! Tetaplah berada pada kedua kakinya dan di situlah terdapat surga.". Disebutkan didalam kitab “Rod al Mukhtar” bahwa bisa jadi maksudnya adalah mencium kakinya. Wallahu A’lam


Dari Zari’ ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi s.a.w. (H.R. Abu Dawud).


Hadits ini dibumikan oleh Imam An-Nawawi didalam kitabnya al Majmu’ juz IV hal 636 dengan mengungkapkan bahwa disunnahkan mencium tangan seorang shaleh, zahid, alim dan yang sepertinya dari kalangan ahli akherat. Adapun mencium tangannya karena kekayaannya, dunianya, kekuatannya dan kedudukannya dari ahli dunia dan orang-orang seperti mereka maka hal demikian sangat dimakruhkan. Bahkan al Mutawalli mengisyaratkan bahwa hal itu haram.


Wallahualam bissawab
Picture: almuayyad.org
Ceritasufi

Artikel Terkait:

Post a Comment
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

PRAY TIME

Tradisi Cium Tangan, Adakah Sandaran Dalam Islam?


Tradisi cium tangan. Label ini telah menjadi tradisi umat Islam. Saat masuk kerumah sepulang sekolah dan menemui ayah dan ibu kita langsung mencium tangan mereka. Ketemu paman, om-tante, dan orang yang lebih tua tentunya kita akan mencium tangan mereka. Selepas sholat dan mengaji kita senantiasa mencium tangan guru/ustadz. Banyak lagi aktifitas yang membuat kita harus mencium tangan. Tradisi? apakah itu sebenarnya?


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia tradisi dapat diartikan dengan adat kebiasaan turun-temurun (dr nenek moyang) yg masih dijalankan dl masyarakat. Dapat pula ia berarti penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yg telah ada merupakan yg paling baik dan benar.
Diakui oleh seorang Australia Emily Sullivan sewaktu mengikuti pertukaran guru 2011 dalam program Building Relations through Intercultural Dialogue and Growing Engagement (BRIDGE). Ia terheran-heran dengan tradisi mencium tangan saat mengajar di MAN 2 Jakarta.


"Saya melihat murid-murid Indonesia sangat menghormati guru mereka. Jujur, saya kaget dengan tradisi murid-murid mencium tangan saya sebagai bentuk penghormatan terhadap guru," tutur Emily Sullivan, seorang pengajar dari Our Lady of Sacred Heart College, Adelaide, di Jakarta.


Mari kita tinggalkan contoh tradisi diatas. Karena boleh jadi ini hanya sebuah tradisi kosong (tanpa sandaran dari Muhammad durrosulullah. Adakah sandaran mencium tangan atau hanya sekedar tradisi atau ajaran yang datang begitu saja? Atau mencium tangan hanya sebuah ritual penghormatan antara yang muda terhadap yang tua saja? Marilah kita simak beberapa riwayat berikut. Semoga menjadi sebuah enlightenment (pencerahan) penebal iman dan pencinta Tuhan Azza wa Jalla.


Anas bin Malik ra: "Ku lihat mereka berebutan menciumi telapak tangan nabi Muhammad SAW dan menaruhkan telapak tangan Beliau di wajah mereka, lalu kuikuti perbuatan mereka maka ketika kutaruh tangan Beliau di wajahku maka kurasakan tangan itu lebih sejuk dari es, dan tidak ada sutra yang lebih lembut dari telapak tangan Beliau dan tidak ada wewangian yang lebih wangi dari harumnya keringat Beliau”.


Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW datanglah para tamu kepada Anas bin Malik ra, seraya bertanya : “adakah tanganmu ini menyentuh kulit Rasulullah saw?”, maka Anas bin malik berkata : “iya”, maka mereka mengambil tangan Anas dan menciuminya, demi mengambil berkah dari tangan yang bersentuhan dengan nabi Muhammad SAW. (Adabul Mufrad oleh Imam Bukhari). 


Ibnu Majah meriwayatkan bahwa Muawiyah bin Jahimah as Sulami ingin pergi berjihad bersama Rasulullah shalallahu ‘alihi wa sallam lalu beliau mengatakan (kepadanya) : "Celakalah kau! Apakah ibumu masih hidup?" la menjawab; "Ya! Wahai Rasulullah!" Rasulullah bersabda : "Celakalah kau! Tetaplah berada pada kedua kakinya dan di situlah terdapat surga.". Disebutkan didalam kitab “Rod al Mukhtar” bahwa bisa jadi maksudnya adalah mencium kakinya. Wallahu A’lam


Dari Zari’ ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi s.a.w. (H.R. Abu Dawud).


Hadits ini dibumikan oleh Imam An-Nawawi didalam kitabnya al Majmu’ juz IV hal 636 dengan mengungkapkan bahwa disunnahkan mencium tangan seorang shaleh, zahid, alim dan yang sepertinya dari kalangan ahli akherat. Adapun mencium tangannya karena kekayaannya, dunianya, kekuatannya dan kedudukannya dari ahli dunia dan orang-orang seperti mereka maka hal demikian sangat dimakruhkan. Bahkan al Mutawalli mengisyaratkan bahwa hal itu haram.


Wallahualam bissawab
Picture: almuayyad.org
Ceritasufi

0 comments:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews