Selamat Membaca dan Jangan Lupa Isikan Komentar Anda Ya.....
Barangsiapa belajar ilmu figh tanpa belajar tassawuf maka ia adalah fasiq. Siapa saja yang belajar Ilmu Tassawuf tanpa belajar Ilmu Figh maka ia adalah Zindiq, dan siapa saja yang mengumpulkan keduanya, maka ia adalah ahli Hakikat (Syeikh Al Fasi, Qawaid Al-Tasawwuf)

Thursday, 26 April 2012

Al Hallaj-Qasidah 4: Tahap-Tahap dalam Menempuh Jalan

Banyak ujaran indah yang tertuang dari tulisan-tulisan tentang Ilahi. Boleh jadi tiap orang membaca lalu berbuah dengan rasa yang tak sama. Mencicipi tiap kalimat indah nan sarat makna tentunya butuh perhatian lebih. Bagaimana tidak! Akal diajak untuk berselancar dalm renungan akan kata dan rangkaian kalimat.

Tentunya hal ini menciptakan sensasi-pemaknaan yang beda di tiap langkah imaginasi.

Penyoal hukum akan melangkah dalam sudut aturan dan syarat, penjual toko kelontong akan berasosiasi dengan makna untung-rugi dan pengajar akan menilik penyampaiannya. Begitu terus hingga ia hinggap di akal tiap manusia dalam tahapan dan peresepsi yang tak persis.
Runut dan acak menjadi Rahmat Allah Azza wa Jalla yang diharapkan mengantongi benang merah. Begitulah Islam menghantarkan umatnya untuk menghargai sebuah Rahmat perbedaan.

Al Hallaj dengan segala kontroversi ungkapan dan sikapnya sering menjadi martir perdebatan. Tapi apalah gunanya semua itu. "Diam adalah emas dan tak semua kata-kaliamat dapat mewakili sebuah fenomena diri". Mungkin itulah kata Syeikh Al Hallaj seandainya ia masih duduk mengobrol denganku sekarang. Terpulang motif dan tuntutan manusia adalah hal terendah dalam menggapai Allah.

Ia berani bertelanjang dihadapan Allah dan berpose rendah di hamba. Menyuaran pancuran air nurani Ilahi yang tak kuat di simpannya sendiri. Merenung segala perjalan tadi menjadi ritual malam yang tak lepas dari kehidupan beliau. Sunyi. Dan Allah berkata dengannya apa yang harus dilakoni. Ia temukan kedamaian pada tahapan awal. Dan merasa bodoh, kecil dan terlanjang-lanjang dihadapan Allah.
Air mata hanya bonus jasad. Ungkapan rasa syukur mata akan penciptanya.

Mengingat, menyebut dan menyebut-nyebut Laa ilaaha illallah lalu berpindah menjadi Allah dan memendek dengan hembusan nafas Hu dan Ha. Darah mulai menggelegak hebat, mengeluarkan bias sinar menyilaukan hinggaa sampai di titik kulminasi.

Sadar beliau akan besarnya hantaman batu karang fitnah kemudia jalan menurun hingga menyusiri padang pasir. Sampailah ia ke tepian sungai sejuk dalam sabarnya. Perlahan namun pasti kakinya terus melangkah di sisi kerikil kerikil tajam dalam kehambaan.

Pangan mata mulai memudar, aku tak lelah. Namun aku haus akan Nya yang mengisi tiap sirip tulangku. Aku tak dapat menghampiriNya. Biarlah ia yang mempersilaknku masuk dalam Nya. Sering aku duduk terdiam lama hingga penat kaki menyemut.

Kegelisahan ini bukanlah perkara kecil. Aku ingin namaku di panggil menghadap. Biarkan aku ditarik dalam pusara atmosfir Nya hingga aku tiba di titik bahwa aku tak ada. Aku hanyalah Aku yang mengucap dengan kehendak Ku.

Tersingkap segala penglihatan. Tapi tempaan itu membuat bibir ini terdiam. Kalaupun terucap,  bukan karena aku menyombongkan pengetahuan ini. Karena pengetahuan Ku adalah pengetahuan Nya pula.

Pelantikan itu kuhadiri haru. Seandainya mereka tahu apa yang kuhadiri sekarang, mungkin leherku telah lama di ambilnya. Kakiku masih basah oleh air wudhu. Selamat tinggal sobat.


QASIDA 4 - Al Hallaj

Tentang Tahap-Tahap dalam Menempuh Jalan

            Inilah renunganku, hening kelu, mengetahui, 
menemukan, lalu telanjang,
            Inilah lempung, api, cahaya, panas, bayangan,
lalu matahari,
            Inilah batu karang, daratan rendah, padang pasir,
sungai pasang, lalu tepian yang berkeriki;.
            Dan inilah kemabukan, fana, hasrat,
menghampiri, bertaut, lalu bahagia,
            Dan inilah kehanyutan, mengendur, hilang,
berpisah, bersatu, lalu hangus terbakar,
            Dan inilah kegelisahan, panggilan, ketertarikan, 
tertata, penyingkapan diri, lalu pelantikan.


Artikel Terkait:

Post a Comment
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

PRAY TIME

Al Hallaj-Qasidah 4: Tahap-Tahap dalam Menempuh Jalan

Banyak ujaran indah yang tertuang dari tulisan-tulisan tentang Ilahi. Boleh jadi tiap orang membaca lalu berbuah dengan rasa yang tak sama. Mencicipi tiap kalimat indah nan sarat makna tentunya butuh perhatian lebih. Bagaimana tidak! Akal diajak untuk berselancar dalm renungan akan kata dan rangkaian kalimat.

Tentunya hal ini menciptakan sensasi-pemaknaan yang beda di tiap langkah imaginasi.

Penyoal hukum akan melangkah dalam sudut aturan dan syarat, penjual toko kelontong akan berasosiasi dengan makna untung-rugi dan pengajar akan menilik penyampaiannya. Begitu terus hingga ia hinggap di akal tiap manusia dalam tahapan dan peresepsi yang tak persis.
Runut dan acak menjadi Rahmat Allah Azza wa Jalla yang diharapkan mengantongi benang merah. Begitulah Islam menghantarkan umatnya untuk menghargai sebuah Rahmat perbedaan.

Al Hallaj dengan segala kontroversi ungkapan dan sikapnya sering menjadi martir perdebatan. Tapi apalah gunanya semua itu. "Diam adalah emas dan tak semua kata-kaliamat dapat mewakili sebuah fenomena diri". Mungkin itulah kata Syeikh Al Hallaj seandainya ia masih duduk mengobrol denganku sekarang. Terpulang motif dan tuntutan manusia adalah hal terendah dalam menggapai Allah.

Ia berani bertelanjang dihadapan Allah dan berpose rendah di hamba. Menyuaran pancuran air nurani Ilahi yang tak kuat di simpannya sendiri. Merenung segala perjalan tadi menjadi ritual malam yang tak lepas dari kehidupan beliau. Sunyi. Dan Allah berkata dengannya apa yang harus dilakoni. Ia temukan kedamaian pada tahapan awal. Dan merasa bodoh, kecil dan terlanjang-lanjang dihadapan Allah.
Air mata hanya bonus jasad. Ungkapan rasa syukur mata akan penciptanya.

Mengingat, menyebut dan menyebut-nyebut Laa ilaaha illallah lalu berpindah menjadi Allah dan memendek dengan hembusan nafas Hu dan Ha. Darah mulai menggelegak hebat, mengeluarkan bias sinar menyilaukan hinggaa sampai di titik kulminasi.

Sadar beliau akan besarnya hantaman batu karang fitnah kemudia jalan menurun hingga menyusiri padang pasir. Sampailah ia ke tepian sungai sejuk dalam sabarnya. Perlahan namun pasti kakinya terus melangkah di sisi kerikil kerikil tajam dalam kehambaan.

Pangan mata mulai memudar, aku tak lelah. Namun aku haus akan Nya yang mengisi tiap sirip tulangku. Aku tak dapat menghampiriNya. Biarlah ia yang mempersilaknku masuk dalam Nya. Sering aku duduk terdiam lama hingga penat kaki menyemut.

Kegelisahan ini bukanlah perkara kecil. Aku ingin namaku di panggil menghadap. Biarkan aku ditarik dalam pusara atmosfir Nya hingga aku tiba di titik bahwa aku tak ada. Aku hanyalah Aku yang mengucap dengan kehendak Ku.

Tersingkap segala penglihatan. Tapi tempaan itu membuat bibir ini terdiam. Kalaupun terucap,  bukan karena aku menyombongkan pengetahuan ini. Karena pengetahuan Ku adalah pengetahuan Nya pula.

Pelantikan itu kuhadiri haru. Seandainya mereka tahu apa yang kuhadiri sekarang, mungkin leherku telah lama di ambilnya. Kakiku masih basah oleh air wudhu. Selamat tinggal sobat.


QASIDA 4 - Al Hallaj

Tentang Tahap-Tahap dalam Menempuh Jalan

            Inilah renunganku, hening kelu, mengetahui, 
menemukan, lalu telanjang,
            Inilah lempung, api, cahaya, panas, bayangan,
lalu matahari,
            Inilah batu karang, daratan rendah, padang pasir,
sungai pasang, lalu tepian yang berkeriki;.
            Dan inilah kemabukan, fana, hasrat,
menghampiri, bertaut, lalu bahagia,
            Dan inilah kehanyutan, mengendur, hilang,
berpisah, bersatu, lalu hangus terbakar,
            Dan inilah kegelisahan, panggilan, ketertarikan, 
tertata, penyingkapan diri, lalu pelantikan.


2 comments:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews