Apabila muncul gangguan hatimu berupa bisikan maksiat dan dunia, lemparkanlah bisikan itu di bawah dua telapak kakimu sebagai sesuatu yang hina, sekaligus sebagai refeksi zuhud, lalu penuhilah hatimu dengan ilmu dan petunjuk.
Friday, 28 March 2014
Wasiat Syeikh Asy Syadzilli: Perjalanan Dunia (Bab. 2)
Apabila muncul gangguan hatimu berupa bisikan maksiat dan dunia, lemparkanlah bisikan itu di bawah dua telapak kakimu sebagai sesuatu yang hina, sekaligus sebagai refeksi zuhud, lalu penuhilah hatimu dengan ilmu dan petunjuk.
Wednesday, 26 March 2014
Belajar Istiqomah dari Mansur bin al Mu'tabar
Zaidah bin Qudamah berkata, bahwa Mansur bin al Mu'tabar berpuasa selama 40 tahun, bangun di malamnya dan puasa pada siang harinya.
Pernah Ibunya berkata kepadanya "Hai anakku, apakah kamu mau membunuh dirimu sendiri?" Anaknya menjawab dengan halus, "Saya tahu apa yang saya perbuat, wahai ibuku."
Kebiasaan yang jarang di lakukan orang-orang saat itu selain Mansur bin al Mu'tabar adalah jika pagi telah datang, ia selalu mencelak matanya, meminyaki rambut, hiasi bibirnya, barulah ia keluar menemui orang-orang di kampungnya.
Pimpinan Kufah saat itu Yusuf bin Umar sangat ingin menjadikannya seorang pemimpin, tetapi Mansur bin al Mu'tabar selalu menolak permintaan itu.
Karena kekaguman masyarakat akan kesalehannya, hingga suatu saat, datanglah dua orang yang dianggap dapat meluluhkan hatinya. Hingga terjadi perdebatan kecil diantara mereka bertiga. Sekali lagi Mansur al Mu'tabar tak merubah keputusannya untuk menjadi rakyat jelata. Bahkan sedikitpun ia tidak menanggapi pertengkaran tentang dirinya.
Dikatakan kepada Yusuf bin Umar, "Walau engkau makan dagingnnya, ia tetap tidak ingin menjadi pemimpin."
Akhirnya orang-orang tak mampu meluluhkan pulihan Mansur bin al Mu'tabar untuk menjadi pemimpin mereka. Hingga orang-orang membiarkannya. Ia pun menyibukkan dirinya untuk menyembah Tuhannya.
Saturday, 22 March 2014
Mengadu kepada Allah
Telah menjadi kebiasaan, semoga tidak menjadi budaya masyarakat Islam di Indonesia tentunya, menuangkan segala kegiatannya di dalam social media, facebook, tweet, instagram dll.
Media (sarana) di dunia maya ini menjadi tempat paling ampuh bagi anak-anak hingga orang tua untuk mengungkapkan segala yang mereka alami. Tahukah kita, bahwa semua itu dapat menyebabkan Allah swt mengurangi perhatiannya kepada kita, lantaran keluhan, kesenangan, kebencian dan semuanya itu dapat menggiring ke dalam kebencian Allah?
Padahal Allah Azza wa Jalla yang menciptakan kesedihan dan kesenangan itu.
Tak ada kesia-siaan segala ciptaanNya.
Hingga ujian adalah menjadi bentuk penyucian diri untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.
Kisah berikut datang dari salah Khlafifah Allah yang kedua, Umar bin Kaththab ra saat dia mendapat masalah dalam hidupnya.
Abdullah bin Umar berkata bahwa telah datang serombongan pedagang dan bermalam di mesjid. Lalu Umar bin Khaththab. Berkata pada Abdurraman bun Auf, "Apakah ada seseorang yang akan menjaga mereka dari pencuri nanti malam?"
Keduanya pun memutuslan berjaga-jaga. Mereka gunakan malam untuk shalat sembari menjaga.
Tak lama, Umar mendengar tangisab anak kecil. Ia berkata kepada ibunya, " Takutlah kepada Allah, berbuat baiklah kepada anakmu."
Setelah kbali ke tempatnya, ia dengar lagi tangisab itu. Maka Umar datangi lagi ibunya dan berkata seperti semula. Lalu kembali ke tempatnya.
Ketika malam akan berakhir, didengarnya lagi tangisan itu. Kembali Umar mendatangi ibu tersebut dan berkata, " Celakalah kamu, sungguh saya menyangka engkau ibu yang jahat. Kenapa saya melihat anakmu tidak tenang dari tadi malam?"
Maka ibu itu berkata, " Wahai hamba Allah (sedangkan ibu itu tidak tagu siapa Umar bin Kaththab), engkau telah menyuruh saya diam sejenak malam tadi. Saya telah menyapuhnya, tapi ia enggan disapih."
Ia bertanya, "Kenapa disapih?"
Ibu menjawab, "Karena Umar, pemimpin kami tidak mewahibkan kecuali sebatas waktu yang diwajibkan."
Ia berkata, "Celaka kamu! Jangan engkau cepat memutuskan."
Kemudian Umar bin Khaththab salat subuh. Jamaahnya tidak jelas mendengar bacaannya karena tangisannya. Selesai memberi salam, ia berkata, "Hai, betapa jahat Umar, berapa banyak sudah ia membunuh anak-anak muslim."
Lalu ia perintagkan seseorang agar berseru, "Ketahuilah! Jangan kalian sapih anak-anak kalian terlalu cepat. Seaungguhnya kami mewajibkab setiap anak muslim agar disusui. Lalu ditulislah aturan tersebut dan disebar ke aeluruh penjuru negeri Islam."
Semenjak itu Umar selalu membaca dala salat wajib,
...Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku... (Yusuf [12]: 86)
Lalu Umar bin Khaththab menangis dengan keras dan tinggi, hingga didengar oleh shaf paling belakang.
Begitulah bagaimana Allah swt memberikan pelajaran demi pelajaran bagi Umar bin Khaththab dan tiap kaum muslimin agak selalu mencurahkan kesusahan dan kebahagiannya hanya kepada Allah swt.
Akhirnya, seluruh urusan seorang mukmib adalah baik. Jika ia di timpa musibah, ia bersabar dan sabar itu adalah baik baginya.
Jika ia di timpa hal yang membahagiakan, ia bersyukur. Karena itulah yang terbaik.
Begitulah akhirnya sikap seorang muslim untuk tidak serta merta mencurahkan semuanya kedalam Social Media. Melainkan pengaduan itu hanya tertuju kepada Allah subhanahu wata'ala.
Waallahualam bissawab.
Roh Sejati dalam Dunia Orang Lalai
Jangan ajak aku ke dunia itu,
Aku pernah kesana, melihat kekejian dan kefanaannya.
Ketidakpedulian adalah sebuah tabir; aku melihat cahaya Kebenaran tersembunyi.
Segala sesuatu, seluruh ciptaan, aku melihat begitu fana dan penuh bahaya.
Eksistensi, sesungguhnya aku diletakkan diatasnya.
Sayangnya! Ia adalah non eksistensi; aku sangat menderita.
Seperti kehidupan, aku mengalaminya; aku melihatnya sebagai siksaan di dalam siksaan.
Aku menjadi hukum sejati; aku melihat kekekalan menjadi bencana.
Kehidupan bagaikan angin, ia melintas begitu saja; aku melihat kesempurnaan kerugian sejati.
Alam perbuatan hanya untuk pamer; aku melihat ambisi menjadi penderitaan sejati.
Pertemuan pada kenyataannya adalah perpisahan; aku melihat obat sebagai penyakit.
Cahaya-cahaya ini menjadi kegelapan; aku melihat teman-teman ini menjadi yatim-piatu.
Suara-suara ini adalah pemberitahuan kematian; aku melihat kehidupan menjadi kematian.
Pengetahuan berubah menjadi seloroh; aku melihat ribuan penyakit di dalam ilmu pengetahuan.
Kesenangan menjadi penderitaan; aku melihat eksistensi menjadi non eksistensi terpadu.
Aku telah menemukan Kekasih Sejati; Ah... Aku mengalami banyak penderitaan karena perpisahan.
Oleh Beiduzzaman Said Nursi.
Dalam Al Ahad-Menikmati Ekstase Spiritual Cinta Ilahi
Wednesday, 19 March 2014
Hijab Nya Atas Kamu
![]() |
| Calligraphic Scroll, dari Syria, atau India, Abad ke 14 - 15. Koleksi Al-Sabah, Dar al-Athar al-Islamiyyah, Kuwait. |
Saturday, 15 March 2014
Wasiat Syeikh Asy Syadzilli (Bag. 1)
![]() | ||||||||
| Kaligrafi Kuno Iraq.Sebagai Cacatan: Tinta hitam dan merah (simbol titik) adalah sebuah kewajiban dalam tradisi kaligrafi Iraq saat itu |
Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily banyak berpesan bagaimana harus menyelesaikan permasalahan dunia.Telah banyak uraian yang dapat kita temukan dalam literatur sekarang. Baik ulasan langsung atau berupa kutipan pendek dari Wasiat Syeikh As Syadzili.
Awas! Waspadalah dengan kesibukan dunia manakala dunia mendekatimu.
Wednesday, 11 December 2013
Awalnya Menolak Untuk Menikah (Akkaf Ibnu Wada’ah al Hilali)
![]() |
|
Illustration: i-am-muslimah.tumblr.com
|
Thursday, 5 December 2013
F T W
Lama pula aku tak mengeluarkan tumpahan isi kepala. Jikapun harus tumpah, berusak ku menjadi tumpahan lebih bermanfaat bagi ku dan kalian.
Carut marut sistem birokrasi memang menjadi hal yang cukup menjauhkan diriku.
Aku tak berani sama sekali untuk mengakui kehebatan ke jeniusan diri dari mereka. Tapi sungguh tanpa kusadari aku hanyut dalam alam materi mereka. Penuh dengan aturan manusia yang sesekali membuatku harus tertunduk lama. Menahan rasa dengan nafas diatur sedemikian rupa agar tak memecahkan meja di hadapan kami.
Hari penantian yang belum juga dapat keputusan untuk hijrah. Hijrah dari embanan tugas yang sebenarnya aku sangat enggan menerimanya. Hanya lantaran tak ada lagi pilihan lain, maka jadilah aku sasaran tembak yang jitu. Tak kuasa menolak karena memang aku susah berkata tidak.
Sungguh Allah mneganugrahkan keyakinan akan takdir. Allah tahu aku mampu. Tapi setelah itu, aku berkata, "Aku tak mampu Ya..Allah..!"
Begitu banyak dunia abu-abu yang selalu menjadi hijab. Yah...penghalang akan melihat kebesaran Allah.
Berurusan dengan lembar yang di beri nilai oleh manusia-money memang rentan dengan rejeki abal-abal. Tak rela rasanya hanya gara-gara serupiah aku harus bercengkrama dengan malaikat penyiksa kubur. Tak rela, pikirku, jika harus berhadapan dengan tuntutan akhirat.
Bukan aku tak rela menerima semua tanggung jawab ini. Tapi aku tak rela jika ini menjadi pemicu untuk menjanda dengan Tuhanku. Aku khawatir ini menjadi awal menduda dengan Nya.
Entah berapa banyak kongkuw-kongkuw yang terpaksa harus kujalankan demi kemudahan birokrasi. Disisi lain batinku teriak. Menolak segala perlakuan dan kelakuan sbejat sendiri. Sebagian besar bukan untuk diriku sebenarnya, tapi untuk orang-orang ku tanggung.
"Meminimalisir kebejatan birokrasi.. " Hanya itu usaha terbaikku saat ini.
Hasbunallah wa ni'mal wakil Ni'mal maula wa Ni'mal wakil
Wednesday, 9 October 2013
Doa Keluar Rumah dan Hikmahnya
Wednesday, 24 July 2013
Piri Reis Pembuat Peta Akurat
Piri
Reis lahir di Gallipoli, daerah Pantai Aegea, Turki. Ia hidup antara tahun
877-961 Hijriah atau 1465-1554 Masehi, dengan nama lengkap Hadji Muhiddin Piri
Ibnu Hadji Mehmet. Piri kecil menghabiskan masa kanak-kanaknya hingga remaja
bersama pamannya Kemal Reis, seorang pelaut terkenal di masa Kekalifahan Turki
Utsmani. Pamannyalah yang mendorong Piri mencintai laut, pelayaran dan
kartografi (ilmu pembuatan peta). Wasiat Syeikh Abu Hasan Asy Syadzili tentang Kesibukan Dunia
Wednesday, 12 June 2013
Kalimat Sakti Pengantar Tidur dari Nenek (Grandma Days)
![]() |
| Barakallah Grandma..! |
Monday, 3 June 2013
Al Hallaj - Apakah Realitas?
Pencaharian akan realitas, adalah segala sesuatu yang sangat subtil, tak kentara,dalam setiap gambarannya-setiap jejak langkah yang bisa membawa Sang Pencari (salik) pada sesuatu yang dangkal. Dan disanalah ia menapak luapan keluh-kesah panjang di padang pasir yang kering-kerontang.
Marikita lihat bagaimana Al Hallaj berujar tentang Realitas.
10 Wanita Islam yang Menginspirasi Dunia
Sunday, 2 June 2013
Tina Styliandou Diajar Membenci Islam
"Karikatur dan Fitnah terhadap Muhammad di media Yunani adalah Ujian Besar bagi Kami"Saturday, 1 June 2013
Al Hallaj : 40 Maqam Spiritual Sang Pencari (Salik)
| Illustration. islampeace1.wordpress.com |
Friday, 17 May 2013
Bayer Munich Buat Mesjid Untuk Pemain dan Fans
PRAY TIME
Wasiat Syeikh Asy Syadzilli: Perjalanan Dunia (Bab. 2)
Apabila muncul gangguan hatimu berupa bisikan maksiat dan dunia, lemparkanlah bisikan itu di bawah dua telapak kakimu sebagai sesuatu yang hina, sekaligus sebagai refeksi zuhud, lalu penuhilah hatimu dengan ilmu dan petunjuk.
Belajar Istiqomah dari Mansur bin al Mu'tabar
Zaidah bin Qudamah berkata, bahwa Mansur bin al Mu'tabar berpuasa selama 40 tahun, bangun di malamnya dan puasa pada siang harinya.
Pernah Ibunya berkata kepadanya "Hai anakku, apakah kamu mau membunuh dirimu sendiri?" Anaknya menjawab dengan halus, "Saya tahu apa yang saya perbuat, wahai ibuku."
Kebiasaan yang jarang di lakukan orang-orang saat itu selain Mansur bin al Mu'tabar adalah jika pagi telah datang, ia selalu mencelak matanya, meminyaki rambut, hiasi bibirnya, barulah ia keluar menemui orang-orang di kampungnya.
Pimpinan Kufah saat itu Yusuf bin Umar sangat ingin menjadikannya seorang pemimpin, tetapi Mansur bin al Mu'tabar selalu menolak permintaan itu.
Karena kekaguman masyarakat akan kesalehannya, hingga suatu saat, datanglah dua orang yang dianggap dapat meluluhkan hatinya. Hingga terjadi perdebatan kecil diantara mereka bertiga. Sekali lagi Mansur al Mu'tabar tak merubah keputusannya untuk menjadi rakyat jelata. Bahkan sedikitpun ia tidak menanggapi pertengkaran tentang dirinya.
Dikatakan kepada Yusuf bin Umar, "Walau engkau makan dagingnnya, ia tetap tidak ingin menjadi pemimpin."
Akhirnya orang-orang tak mampu meluluhkan pulihan Mansur bin al Mu'tabar untuk menjadi pemimpin mereka. Hingga orang-orang membiarkannya. Ia pun menyibukkan dirinya untuk menyembah Tuhannya.
Mengadu kepada Allah
Telah menjadi kebiasaan, semoga tidak menjadi budaya masyarakat Islam di Indonesia tentunya, menuangkan segala kegiatannya di dalam social media, facebook, tweet, instagram dll.
Media (sarana) di dunia maya ini menjadi tempat paling ampuh bagi anak-anak hingga orang tua untuk mengungkapkan segala yang mereka alami. Tahukah kita, bahwa semua itu dapat menyebabkan Allah swt mengurangi perhatiannya kepada kita, lantaran keluhan, kesenangan, kebencian dan semuanya itu dapat menggiring ke dalam kebencian Allah?
Padahal Allah Azza wa Jalla yang menciptakan kesedihan dan kesenangan itu.
Tak ada kesia-siaan segala ciptaanNya.
Hingga ujian adalah menjadi bentuk penyucian diri untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.
Kisah berikut datang dari salah Khlafifah Allah yang kedua, Umar bin Kaththab ra saat dia mendapat masalah dalam hidupnya.
Abdullah bin Umar berkata bahwa telah datang serombongan pedagang dan bermalam di mesjid. Lalu Umar bin Khaththab. Berkata pada Abdurraman bun Auf, "Apakah ada seseorang yang akan menjaga mereka dari pencuri nanti malam?"
Keduanya pun memutuslan berjaga-jaga. Mereka gunakan malam untuk shalat sembari menjaga.
Tak lama, Umar mendengar tangisab anak kecil. Ia berkata kepada ibunya, " Takutlah kepada Allah, berbuat baiklah kepada anakmu."
Setelah kbali ke tempatnya, ia dengar lagi tangisab itu. Maka Umar datangi lagi ibunya dan berkata seperti semula. Lalu kembali ke tempatnya.
Ketika malam akan berakhir, didengarnya lagi tangisan itu. Kembali Umar mendatangi ibu tersebut dan berkata, " Celakalah kamu, sungguh saya menyangka engkau ibu yang jahat. Kenapa saya melihat anakmu tidak tenang dari tadi malam?"
Maka ibu itu berkata, " Wahai hamba Allah (sedangkan ibu itu tidak tagu siapa Umar bin Kaththab), engkau telah menyuruh saya diam sejenak malam tadi. Saya telah menyapuhnya, tapi ia enggan disapih."
Ia bertanya, "Kenapa disapih?"
Ibu menjawab, "Karena Umar, pemimpin kami tidak mewahibkan kecuali sebatas waktu yang diwajibkan."
Ia berkata, "Celaka kamu! Jangan engkau cepat memutuskan."
Kemudian Umar bin Khaththab salat subuh. Jamaahnya tidak jelas mendengar bacaannya karena tangisannya. Selesai memberi salam, ia berkata, "Hai, betapa jahat Umar, berapa banyak sudah ia membunuh anak-anak muslim."
Lalu ia perintagkan seseorang agar berseru, "Ketahuilah! Jangan kalian sapih anak-anak kalian terlalu cepat. Seaungguhnya kami mewajibkab setiap anak muslim agar disusui. Lalu ditulislah aturan tersebut dan disebar ke aeluruh penjuru negeri Islam."
Semenjak itu Umar selalu membaca dala salat wajib,
...Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku... (Yusuf [12]: 86)
Lalu Umar bin Khaththab menangis dengan keras dan tinggi, hingga didengar oleh shaf paling belakang.
Begitulah bagaimana Allah swt memberikan pelajaran demi pelajaran bagi Umar bin Khaththab dan tiap kaum muslimin agak selalu mencurahkan kesusahan dan kebahagiannya hanya kepada Allah swt.
Akhirnya, seluruh urusan seorang mukmib adalah baik. Jika ia di timpa musibah, ia bersabar dan sabar itu adalah baik baginya.
Jika ia di timpa hal yang membahagiakan, ia bersyukur. Karena itulah yang terbaik.
Begitulah akhirnya sikap seorang muslim untuk tidak serta merta mencurahkan semuanya kedalam Social Media. Melainkan pengaduan itu hanya tertuju kepada Allah subhanahu wata'ala.
Waallahualam bissawab.
Roh Sejati dalam Dunia Orang Lalai
Jangan ajak aku ke dunia itu,
Aku pernah kesana, melihat kekejian dan kefanaannya.
Ketidakpedulian adalah sebuah tabir; aku melihat cahaya Kebenaran tersembunyi.
Segala sesuatu, seluruh ciptaan, aku melihat begitu fana dan penuh bahaya.
Eksistensi, sesungguhnya aku diletakkan diatasnya.
Sayangnya! Ia adalah non eksistensi; aku sangat menderita.
Seperti kehidupan, aku mengalaminya; aku melihatnya sebagai siksaan di dalam siksaan.
Aku menjadi hukum sejati; aku melihat kekekalan menjadi bencana.
Kehidupan bagaikan angin, ia melintas begitu saja; aku melihat kesempurnaan kerugian sejati.
Alam perbuatan hanya untuk pamer; aku melihat ambisi menjadi penderitaan sejati.
Pertemuan pada kenyataannya adalah perpisahan; aku melihat obat sebagai penyakit.
Cahaya-cahaya ini menjadi kegelapan; aku melihat teman-teman ini menjadi yatim-piatu.
Suara-suara ini adalah pemberitahuan kematian; aku melihat kehidupan menjadi kematian.
Pengetahuan berubah menjadi seloroh; aku melihat ribuan penyakit di dalam ilmu pengetahuan.
Kesenangan menjadi penderitaan; aku melihat eksistensi menjadi non eksistensi terpadu.
Aku telah menemukan Kekasih Sejati; Ah... Aku mengalami banyak penderitaan karena perpisahan.
Oleh Beiduzzaman Said Nursi.
Dalam Al Ahad-Menikmati Ekstase Spiritual Cinta Ilahi
Hijab Nya Atas Kamu
![]() |
| Calligraphic Scroll, dari Syria, atau India, Abad ke 14 - 15. Koleksi Al-Sabah, Dar al-Athar al-Islamiyyah, Kuwait. |
Wasiat Syeikh Asy Syadzilli (Bag. 1)
![]() | ||||||||
| Kaligrafi Kuno Iraq.Sebagai Cacatan: Tinta hitam dan merah (simbol titik) adalah sebuah kewajiban dalam tradisi kaligrafi Iraq saat itu |
Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily banyak berpesan bagaimana harus menyelesaikan permasalahan dunia.Telah banyak uraian yang dapat kita temukan dalam literatur sekarang. Baik ulasan langsung atau berupa kutipan pendek dari Wasiat Syeikh As Syadzili.
Awas! Waspadalah dengan kesibukan dunia manakala dunia mendekatimu.
Awalnya Menolak Untuk Menikah (Akkaf Ibnu Wada’ah al Hilali)
![]() |
|
Illustration: i-am-muslimah.tumblr.com
|
F T W
Lama pula aku tak mengeluarkan tumpahan isi kepala. Jikapun harus tumpah, berusak ku menjadi tumpahan lebih bermanfaat bagi ku dan kalian.
Carut marut sistem birokrasi memang menjadi hal yang cukup menjauhkan diriku.
Aku tak berani sama sekali untuk mengakui kehebatan ke jeniusan diri dari mereka. Tapi sungguh tanpa kusadari aku hanyut dalam alam materi mereka. Penuh dengan aturan manusia yang sesekali membuatku harus tertunduk lama. Menahan rasa dengan nafas diatur sedemikian rupa agar tak memecahkan meja di hadapan kami.
Hari penantian yang belum juga dapat keputusan untuk hijrah. Hijrah dari embanan tugas yang sebenarnya aku sangat enggan menerimanya. Hanya lantaran tak ada lagi pilihan lain, maka jadilah aku sasaran tembak yang jitu. Tak kuasa menolak karena memang aku susah berkata tidak.
Sungguh Allah mneganugrahkan keyakinan akan takdir. Allah tahu aku mampu. Tapi setelah itu, aku berkata, "Aku tak mampu Ya..Allah..!"
Begitu banyak dunia abu-abu yang selalu menjadi hijab. Yah...penghalang akan melihat kebesaran Allah.
Berurusan dengan lembar yang di beri nilai oleh manusia-money memang rentan dengan rejeki abal-abal. Tak rela rasanya hanya gara-gara serupiah aku harus bercengkrama dengan malaikat penyiksa kubur. Tak rela, pikirku, jika harus berhadapan dengan tuntutan akhirat.
Bukan aku tak rela menerima semua tanggung jawab ini. Tapi aku tak rela jika ini menjadi pemicu untuk menjanda dengan Tuhanku. Aku khawatir ini menjadi awal menduda dengan Nya.
Entah berapa banyak kongkuw-kongkuw yang terpaksa harus kujalankan demi kemudahan birokrasi. Disisi lain batinku teriak. Menolak segala perlakuan dan kelakuan sbejat sendiri. Sebagian besar bukan untuk diriku sebenarnya, tapi untuk orang-orang ku tanggung.
"Meminimalisir kebejatan birokrasi.. " Hanya itu usaha terbaikku saat ini.
Hasbunallah wa ni'mal wakil Ni'mal maula wa Ni'mal wakil
Posted in: BACA DULUDoa Keluar Rumah dan Hikmahnya
Piri Reis Pembuat Peta Akurat
Piri
Reis lahir di Gallipoli, daerah Pantai Aegea, Turki. Ia hidup antara tahun
877-961 Hijriah atau 1465-1554 Masehi, dengan nama lengkap Hadji Muhiddin Piri
Ibnu Hadji Mehmet. Piri kecil menghabiskan masa kanak-kanaknya hingga remaja
bersama pamannya Kemal Reis, seorang pelaut terkenal di masa Kekalifahan Turki
Utsmani. Pamannyalah yang mendorong Piri mencintai laut, pelayaran dan
kartografi (ilmu pembuatan peta). Wasiat Syeikh Abu Hasan Asy Syadzili tentang Kesibukan Dunia
Kalimat Sakti Pengantar Tidur dari Nenek (Grandma Days)
![]() |
| Barakallah Grandma..! |
Posted in: Profile Cerita SufiAl Hallaj - Apakah Realitas?
Pencaharian akan realitas, adalah segala sesuatu yang sangat subtil, tak kentara,dalam setiap gambarannya-setiap jejak langkah yang bisa membawa Sang Pencari (salik) pada sesuatu yang dangkal. Dan disanalah ia menapak luapan keluh-kesah panjang di padang pasir yang kering-kerontang.
Marikita lihat bagaimana Al Hallaj berujar tentang Realitas.
10 Wanita Islam yang Menginspirasi Dunia
Tina Styliandou Diajar Membenci Islam
"Karikatur dan Fitnah terhadap Muhammad di media Yunani adalah Ujian Besar bagi Kami"Al Hallaj : 40 Maqam Spiritual Sang Pencari (Salik)
| Illustration. islampeace1.wordpress.com |
Bayer Munich Buat Mesjid Untuk Pemain dan Fans













.jpg)
10:27:00 pm
Unknown



