Selamat Membaca dan Jangan Lupa Isikan Komentar Anda Ya.....
Barangsiapa belajar ilmu figh tanpa belajar tassawuf maka ia adalah fasiq. Siapa saja yang belajar Ilmu Tassawuf tanpa belajar Ilmu Figh maka ia adalah Zindiq, dan siapa saja yang mengumpulkan keduanya, maka ia adalah ahli Hakikat (Syeikh Al Fasi, Qawaid Al-Tasawwuf)

Wednesday, 12 June 2013

Kalimat Sakti Pengantar Tidur dari Nenek (Grandma Days)

Barakallah Grandma..!
Ceritasufi - Bismillahirrohman nirrohim
Allahumma sholli 'ala Muhammah wa'ala ali Muhammad....

Surat ini kukirimkan buat arwah nenek dan kakekku di alam Kubur...
 
Semua anak paling senang dengan sosok nenek. Nenek tak akan marah jika cucunya nakal. Nenek tak pernah pelit jika dimintai uang. Nenek selalu memberi apapun yang cucunya pinta

Rasanya tak pantas jika aku membiarkan nenek yang telah berpulang ke hadirat Allah swt harus menanngung sendiri beban di alam sana. Semoga ini menjadi kenangan hidup dan amal bagi nenek dan kakekku.
Semasa kecil, aku sering mendengar nenek mengaji Surah Yasin selesai sholat. Kadang ia membaca Surah Tabarak, Arrahman, atau sekedar melanjutkan bacaan mengajinya. Kalaupun ia tak sempat, ia rutin membacanya di malam Jumat. Kebiasaan ini beliau lakukan terus hingga ia jatuh sakit. Entah sudah berapa lama ia melakoni rutinitas ini. Seingatku, saat aku mulai mengerti dunia, ia telah melazimkan mengaji menjelang malam (mahrib) dan pagi hari(dhuha).


Malam sehabis mahrib, ia biasa duduk menemani kami belajar di ruang tamu sambil sesekali mengaji. Nenek hanya tamatan SR (Sekolah Rakyat). Kebanyakan masa mudanya dihabiskan untuk bekerja di ladang dan akhirnya menenun kain Sambas hingga ia tua. 

Begitu pula saat menjelang awal pagi, ia selalu mengaji. Kebetulan keluarga nenek (selayaknya orang dulu-dulu di Sambas Negri) adalah keluarga yang gemar menuntut ilmu agama. Tak heran ia sangat fasih melafalkan Al Quran dan Arab Melayu.

Gemarnya keluarga nenek akan belajar, sempat terkisah dari Ibu bahwa saudara nenek yang laki-laki (kakek) telah bekerja menjadi pegawai pemerintah  zaman Belanda dan Jepang saat itu. Walau akhirnya beliau dipancung Jepang kala menguasai Borneo.

Nenek adalah perempuan tangguh yang pernah ku kenal. Walau aku belum berakal, tapi cerita ibuku saat aku kecil dulu banyak menyiratkan ketangguhannya sebagai seorang wanita dengan status Janda yang di tinggal Kakek karena Penyakit Asma akut. Kemiskinan nenek tak membuat ia menyerah begitu saja akan hidup. "Ia liut bagai belut", ungkap ibuku menggelar nenekku. Tak mudah menyerah hanya gara-gara makan sehari sekali. Kakek yang sakit-sakitan di akhir hayatnya hanya bisa menjadi buruh tukang rumah kala pesanan ada. Hingga kakek meninggal, nenek kemudian bekerja untuk menghidupikeluarganya.

Walaupun tinggal di kota, tapi kehidupan sudah serba susah saat itu. Berjalan berkilo-kilo hanya untuk bertanam padi buat mencukupi makan dengan lima anak yang masih kecil-kecil. Belum lagi harus membangun rumah yang baru 80% jadi saat di tinggal kakek. Live must go on..

Rumah tinggi dengan kemiringan hampir seperti atap rumah gadang, adalah rumah kenangan yang tak terlupakan. Awalnya hanya rembesan hujan, lama-kelamaan bocor sana-sini tak membuat nenek menyerah. Sayang, sekarang rumah itu telah ......Semoga Allah menjadikan Pahala atas kejadian itu di Yaumil Mahsyar.

Nenek selalu pandai dalam mengajar anak, cucu atau orang disekitarnya. Aku yakin kakeklah yang telah membentuk keluarga nenek menjadi begitu tangguh cobaaan. Ia tak pernah marah dan bermasam muka. Itulah yang sangat kukagumi dari beliau. Senyuman wajah itu sedikit banyak turun dengan ku. Walau tak sebagus nenek tentunya, aku berusaha untuk selalu tersenyum. Senyumnya mempuni. Tak tertebak apa maksud senyuman nya. Hampir kami sekeluarga tak mampu menterjemahkan tiap senyum di wajahnya. Seingatku nenek sangat jarang marah kecuali memang itu sangat diperlukan.

Pernah saat aku kepergok main saat mengaji, nenek langsung mencubit perutku. Tetap dengan ekpresi senyuman khas. Ia tak pernah menggunakan mulutnya untuk mengomel layakny kebanyakan orang. Termasuklah aku. Wajahnya selalu menyungging senyum indah walau saat mencubitku. Itulah sedikit dari kekagumanku pada beliau.

"Surah Yasin adalah penerang idupmu nong", begitu ungkapnya saat aku asik belajar buku Agama Islam untuk sekolah besok. 

"Lazimkan ngaji nong, mudahan Allah swt nulong kau nanti."
"Luruskan niatmu."
"Usah diturutkan gilak nafsu lawwamah."
"Tahan be nafsu yang berlebihan."
"Bacelah doa ito' tiap na' belajar."
"Hafalkan doa ibu bapak."
"Semupurnekan urusan urang, insyaallah di sempurnekan Allah urusanmu nanti"
"Usah lupa sholat i..."
".................jak tinggal nunggu waktu ye be...!"
"Hati mu usah nak di rusakkan i..!"

Kata Nong adalah kata wajib yang hampir tiap saat ia menasehati kami.

Sebagian petuah kudapat dari sepupu saat kami bernostalgia kisah lama. Sebagian kalimat masih segar di kepalaku. Sesegar ikan laut yang baru di pancing. Walau nenek telah meninggal saat aku berumur sepuluh tahun, pesan nya masih menjadi Rem (brake) hingga kini telah berkeluarga. Entah bagaimana kelakuanku jika aku tak mendapat nenek yang sangat memperhatikan keluarga kami.

Suatu saat kala beranjak remaja. Aku t'lah lupa pesan-pesan keramat ini. Yang aku ingat, semasa SMP hanya ada dua pesan, "Belajar yang rajin", dan "Usah na' banyak gilak maing dengan perempuan"

Ada yang aneh sebenarnya. Aneh memang untuk pesan yang kedua, "Jangan banyak bergaul dengan perempuan".

Bukan tanpa alasan nenek berpesan begitu.

Kami tinggal di lingkungan multi kultur. Lokasi pasar dengan deretan ruko, terselip rumah tua yang di huni dua rumah Muslim. Rumahku dan tetanggaku. Kebetulan mereka seumur tapi beda sekolah.  Tetangga yang lain kebanyakan Tionghua.

Tetangga muslim satu-satunya di sebelah rumah dan kebetulan perempuan semua. Jadilah mereka teman bermain. Sepulang sekolah kami sering bermain bersama layaknya anak kecil seumurku saat itu. Tapi semua nya permaian perempuan.

Saat itu tentunya tak ada PC apalagi laptop atau Tablet. Internet masih hayalan. Handphone (hanya berupa walkietalkie/HT). Yang ada hanya permainan tradisional (kata anak-anak sekarang). Lompat tali, gobak sodor, main kelereng (guli), gambar (potongan gambar kartun yang di lambungkan ke atas), mancing, berenang di parit (sungai kecil) hingga berkatapel-ria di hutan.

Sebelum di warning nenek, kami selalu bermain boneka, masak-masak, lompat tali, dakocan. Pokoknya masa kecil asik deh.

Melihat gejala ini, nenek melihat dengan pandangan jauh ke depan. Temanmu adalah cermin mu. Itulah alasan mengapa aku dilarang untuk sering bermain dengan perempuan. Hingga pesannya selalu ia lantunkan setiap kami akan tidur. "ndak bagus maing tolen dengan perempuan, nante' perangai anakmu berubah", begitu kata nenek berpesan dengan ibu agar melarangku bermain dengan perempuan.

Aku banyak tak faham pesan-pesan nenek. Hingga aku harus membuktikan kalimat ini secara langsung saat di bangku kuliah. Memang kalimat-kalimat ini sakti. Betapa tidak, pesan ini yang akhirnya sering menyelamatkan ku dari fitnah pergaulan. Thanks to u Grandma. Allah swt Bless U.

Teringat kembali saat aku terpuruk dalam fana nya dunia. Sempat kehilangan pekerjaan, di khianati sahabat, hingga akhirnya diusir dari rumah kost. Hidup berpindah. Titik balik ini menunjukkanku pada pesan nenek yang telah lama terlupakan. Ada saat aku harus duduk termenung berkelana di alam fikiran untuk menuntut diriku hingga berjam-jam di depan kaca nako kamar kosku (sebelum di usir hehe..). Semua rekaman pesan nenek ku angkat paksa.

Kenakalan dan cobaan datang silih berganti. Rupa dan bentuk berbeda namun rasanya tetap sama. Sakit dan hancur. Hingga itu, aku harus mengupas semua memori kecil keluarga. Selain membooster kembali semangat yang telah berkeping hingga menjadi pelipur lara. Inilah moment dimana pelan Allah swt membuka hijab yang telah kubuat sekian lama. Padahal Allah swt tak pernah mencelakakan hambanya. Sungguh Allah itu baik dan senang yang baik-baik.


"Tapi ielah idup Nong, pa'it-manis harus di rase, mun da'an di rase artinye da'an langkap idup," sambil tersenyum meneguhkanku, tangan Emak membelai punggungku. Mataku tak kuasa menahan rasa panas air yang memaksa keluar dari bola mata yang memerah menahan perih.
I  will give all my devotion to you Mum

Boleh kubilang, nenek adalah wanita cerdas untuk wanita se zamannya. Ia sangat ahli dalam mendidik. Paling tidak itulah pikiranku sekarang. Maaf bukan hanya mengajar, karena mengajar hanya butuh 0,1% saja. Sedang mendidik membutuhkan 1000%. Tiap menjelang tidur, ia sering mengeluarkan kalimat-kalimat sakti. Ku namakan kalimat sakti pengantar tidur. Hampir setiap beranjak tidur, nenek selalu bercerita kisah hidupnya atau cara mengatasi hidup. Padahal aku masih duduk di bangku SD.

Nenek dengan sabar mengajarkan kami doa sehari-hari. Doa makan-minum, keluar rumah, doa saat ketakutan dan banyak lagi. Yang paling beliau ajarkan adalah doa ibu bapak dan doa menghilangkan kesusahan.

Ia meninggalkan ku saat aku duduk dikelas 5 SD. Itulah terakhir kalinya kulihat wajah putih yang masih tersenyum manis. Masukkan Nenek dan Kakekku ku ke dalam syurgaMu, Ya Allah Jalla Jalaaluh, Engkaulah Allah yang Maha Mengabulkan Permintaan seorang cucu kepada Nenek dan Kakeknya.

Sayang aku tak pernah berjumpa kakek. Jadi tak ada kenangan yang dapat kukisah. Tulisan ini juga untukmu Kakek ku! Karena kau telah mendidik nenek menjadi wanita hebat hingga ke anak cucu mu.

Bukan hanya saat tidur ia sematkan kalimat sakti di otak kami, cucu-cucunya, tapi ia bisa saja melakukan itu saat kami belajar atau bermain sekalipun. Perfect Brainwashing of Family Education ini dilakukan hingga ia jatuh sakit.

Nenek telah berhasil membuat aku sukses. Menjadi manusia yang sadar diri. Doanya telah menjadi perisai hidup keluarga kami. Disadari atau tidak, aku banyak terpengaruh dari beliau menjalani hidup. Belajar untuk bertahan dan menyerang saat diperlukan.

Ampunkan nenekku Ya Rahman, Luaskan kuburnya Ya Rahim, Lipat Gandakan kebaikannya semasa hidup Ya Hayyu Ya Qayyum. Jadikan kami keturunannya termasuk golongan sholeh/sholehah.
Jadikan kenangan kami dalam tulisan ini menjadi amal jariah teruntuk nenek dan kakeku Ya Allah Jalla Jalaaluh.
 
Allahumma sholli 'ala Muhammad, wa'ala ali Muhammad, kama shollaita 'ala Ibrohim wa'ala 'ali Ibrohim, wa barik 'ala Muhammad wa'ala 'ali Muhammah, kama barokta 'ala Ibrohim wa'ala 'ali Ibrohim. Fil 'alamina, innaka hamidum majid



Note: 
Pancung          : (Melayu Kalbar): penggal kepal
Arab Melayu   : Tulisan arab yang dibaca melayu
Berakal          : Dapat membedakan baik dan buruk
Sambas Negri : sebutan untuk Kota Sambas zaman penajajahan
Nong              : Panggilan kesayangan anak
Nulong           : Tolong/ menolong
Be                  : Imbuhan (seperti bah dalam bahasa batak)
Gilak             : Terlalu, berlebihan
Urang             : Orang/manusia

Artikel Terkait:

Post a Comment
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

PRAY TIME

Kalimat Sakti Pengantar Tidur dari Nenek (Grandma Days)

Barakallah Grandma..!
Ceritasufi - Bismillahirrohman nirrohim
Allahumma sholli 'ala Muhammah wa'ala ali Muhammad....

Surat ini kukirimkan buat arwah nenek dan kakekku di alam Kubur...
 
Semua anak paling senang dengan sosok nenek. Nenek tak akan marah jika cucunya nakal. Nenek tak pernah pelit jika dimintai uang. Nenek selalu memberi apapun yang cucunya pinta

Rasanya tak pantas jika aku membiarkan nenek yang telah berpulang ke hadirat Allah swt harus menanngung sendiri beban di alam sana. Semoga ini menjadi kenangan hidup dan amal bagi nenek dan kakekku.
Semasa kecil, aku sering mendengar nenek mengaji Surah Yasin selesai sholat. Kadang ia membaca Surah Tabarak, Arrahman, atau sekedar melanjutkan bacaan mengajinya. Kalaupun ia tak sempat, ia rutin membacanya di malam Jumat. Kebiasaan ini beliau lakukan terus hingga ia jatuh sakit. Entah sudah berapa lama ia melakoni rutinitas ini. Seingatku, saat aku mulai mengerti dunia, ia telah melazimkan mengaji menjelang malam (mahrib) dan pagi hari(dhuha).


Malam sehabis mahrib, ia biasa duduk menemani kami belajar di ruang tamu sambil sesekali mengaji. Nenek hanya tamatan SR (Sekolah Rakyat). Kebanyakan masa mudanya dihabiskan untuk bekerja di ladang dan akhirnya menenun kain Sambas hingga ia tua. 

Begitu pula saat menjelang awal pagi, ia selalu mengaji. Kebetulan keluarga nenek (selayaknya orang dulu-dulu di Sambas Negri) adalah keluarga yang gemar menuntut ilmu agama. Tak heran ia sangat fasih melafalkan Al Quran dan Arab Melayu.

Gemarnya keluarga nenek akan belajar, sempat terkisah dari Ibu bahwa saudara nenek yang laki-laki (kakek) telah bekerja menjadi pegawai pemerintah  zaman Belanda dan Jepang saat itu. Walau akhirnya beliau dipancung Jepang kala menguasai Borneo.

Nenek adalah perempuan tangguh yang pernah ku kenal. Walau aku belum berakal, tapi cerita ibuku saat aku kecil dulu banyak menyiratkan ketangguhannya sebagai seorang wanita dengan status Janda yang di tinggal Kakek karena Penyakit Asma akut. Kemiskinan nenek tak membuat ia menyerah begitu saja akan hidup. "Ia liut bagai belut", ungkap ibuku menggelar nenekku. Tak mudah menyerah hanya gara-gara makan sehari sekali. Kakek yang sakit-sakitan di akhir hayatnya hanya bisa menjadi buruh tukang rumah kala pesanan ada. Hingga kakek meninggal, nenek kemudian bekerja untuk menghidupikeluarganya.

Walaupun tinggal di kota, tapi kehidupan sudah serba susah saat itu. Berjalan berkilo-kilo hanya untuk bertanam padi buat mencukupi makan dengan lima anak yang masih kecil-kecil. Belum lagi harus membangun rumah yang baru 80% jadi saat di tinggal kakek. Live must go on..

Rumah tinggi dengan kemiringan hampir seperti atap rumah gadang, adalah rumah kenangan yang tak terlupakan. Awalnya hanya rembesan hujan, lama-kelamaan bocor sana-sini tak membuat nenek menyerah. Sayang, sekarang rumah itu telah ......Semoga Allah menjadikan Pahala atas kejadian itu di Yaumil Mahsyar.

Nenek selalu pandai dalam mengajar anak, cucu atau orang disekitarnya. Aku yakin kakeklah yang telah membentuk keluarga nenek menjadi begitu tangguh cobaaan. Ia tak pernah marah dan bermasam muka. Itulah yang sangat kukagumi dari beliau. Senyuman wajah itu sedikit banyak turun dengan ku. Walau tak sebagus nenek tentunya, aku berusaha untuk selalu tersenyum. Senyumnya mempuni. Tak tertebak apa maksud senyuman nya. Hampir kami sekeluarga tak mampu menterjemahkan tiap senyum di wajahnya. Seingatku nenek sangat jarang marah kecuali memang itu sangat diperlukan.

Pernah saat aku kepergok main saat mengaji, nenek langsung mencubit perutku. Tetap dengan ekpresi senyuman khas. Ia tak pernah menggunakan mulutnya untuk mengomel layakny kebanyakan orang. Termasuklah aku. Wajahnya selalu menyungging senyum indah walau saat mencubitku. Itulah sedikit dari kekagumanku pada beliau.

"Surah Yasin adalah penerang idupmu nong", begitu ungkapnya saat aku asik belajar buku Agama Islam untuk sekolah besok. 

"Lazimkan ngaji nong, mudahan Allah swt nulong kau nanti."
"Luruskan niatmu."
"Usah diturutkan gilak nafsu lawwamah."
"Tahan be nafsu yang berlebihan."
"Bacelah doa ito' tiap na' belajar."
"Hafalkan doa ibu bapak."
"Semupurnekan urusan urang, insyaallah di sempurnekan Allah urusanmu nanti"
"Usah lupa sholat i..."
".................jak tinggal nunggu waktu ye be...!"
"Hati mu usah nak di rusakkan i..!"

Kata Nong adalah kata wajib yang hampir tiap saat ia menasehati kami.

Sebagian petuah kudapat dari sepupu saat kami bernostalgia kisah lama. Sebagian kalimat masih segar di kepalaku. Sesegar ikan laut yang baru di pancing. Walau nenek telah meninggal saat aku berumur sepuluh tahun, pesan nya masih menjadi Rem (brake) hingga kini telah berkeluarga. Entah bagaimana kelakuanku jika aku tak mendapat nenek yang sangat memperhatikan keluarga kami.

Suatu saat kala beranjak remaja. Aku t'lah lupa pesan-pesan keramat ini. Yang aku ingat, semasa SMP hanya ada dua pesan, "Belajar yang rajin", dan "Usah na' banyak gilak maing dengan perempuan"

Ada yang aneh sebenarnya. Aneh memang untuk pesan yang kedua, "Jangan banyak bergaul dengan perempuan".

Bukan tanpa alasan nenek berpesan begitu.

Kami tinggal di lingkungan multi kultur. Lokasi pasar dengan deretan ruko, terselip rumah tua yang di huni dua rumah Muslim. Rumahku dan tetanggaku. Kebetulan mereka seumur tapi beda sekolah.  Tetangga yang lain kebanyakan Tionghua.

Tetangga muslim satu-satunya di sebelah rumah dan kebetulan perempuan semua. Jadilah mereka teman bermain. Sepulang sekolah kami sering bermain bersama layaknya anak kecil seumurku saat itu. Tapi semua nya permaian perempuan.

Saat itu tentunya tak ada PC apalagi laptop atau Tablet. Internet masih hayalan. Handphone (hanya berupa walkietalkie/HT). Yang ada hanya permainan tradisional (kata anak-anak sekarang). Lompat tali, gobak sodor, main kelereng (guli), gambar (potongan gambar kartun yang di lambungkan ke atas), mancing, berenang di parit (sungai kecil) hingga berkatapel-ria di hutan.

Sebelum di warning nenek, kami selalu bermain boneka, masak-masak, lompat tali, dakocan. Pokoknya masa kecil asik deh.

Melihat gejala ini, nenek melihat dengan pandangan jauh ke depan. Temanmu adalah cermin mu. Itulah alasan mengapa aku dilarang untuk sering bermain dengan perempuan. Hingga pesannya selalu ia lantunkan setiap kami akan tidur. "ndak bagus maing tolen dengan perempuan, nante' perangai anakmu berubah", begitu kata nenek berpesan dengan ibu agar melarangku bermain dengan perempuan.

Aku banyak tak faham pesan-pesan nenek. Hingga aku harus membuktikan kalimat ini secara langsung saat di bangku kuliah. Memang kalimat-kalimat ini sakti. Betapa tidak, pesan ini yang akhirnya sering menyelamatkan ku dari fitnah pergaulan. Thanks to u Grandma. Allah swt Bless U.

Teringat kembali saat aku terpuruk dalam fana nya dunia. Sempat kehilangan pekerjaan, di khianati sahabat, hingga akhirnya diusir dari rumah kost. Hidup berpindah. Titik balik ini menunjukkanku pada pesan nenek yang telah lama terlupakan. Ada saat aku harus duduk termenung berkelana di alam fikiran untuk menuntut diriku hingga berjam-jam di depan kaca nako kamar kosku (sebelum di usir hehe..). Semua rekaman pesan nenek ku angkat paksa.

Kenakalan dan cobaan datang silih berganti. Rupa dan bentuk berbeda namun rasanya tetap sama. Sakit dan hancur. Hingga itu, aku harus mengupas semua memori kecil keluarga. Selain membooster kembali semangat yang telah berkeping hingga menjadi pelipur lara. Inilah moment dimana pelan Allah swt membuka hijab yang telah kubuat sekian lama. Padahal Allah swt tak pernah mencelakakan hambanya. Sungguh Allah itu baik dan senang yang baik-baik.


"Tapi ielah idup Nong, pa'it-manis harus di rase, mun da'an di rase artinye da'an langkap idup," sambil tersenyum meneguhkanku, tangan Emak membelai punggungku. Mataku tak kuasa menahan rasa panas air yang memaksa keluar dari bola mata yang memerah menahan perih.
I  will give all my devotion to you Mum

Boleh kubilang, nenek adalah wanita cerdas untuk wanita se zamannya. Ia sangat ahli dalam mendidik. Paling tidak itulah pikiranku sekarang. Maaf bukan hanya mengajar, karena mengajar hanya butuh 0,1% saja. Sedang mendidik membutuhkan 1000%. Tiap menjelang tidur, ia sering mengeluarkan kalimat-kalimat sakti. Ku namakan kalimat sakti pengantar tidur. Hampir setiap beranjak tidur, nenek selalu bercerita kisah hidupnya atau cara mengatasi hidup. Padahal aku masih duduk di bangku SD.

Nenek dengan sabar mengajarkan kami doa sehari-hari. Doa makan-minum, keluar rumah, doa saat ketakutan dan banyak lagi. Yang paling beliau ajarkan adalah doa ibu bapak dan doa menghilangkan kesusahan.

Ia meninggalkan ku saat aku duduk dikelas 5 SD. Itulah terakhir kalinya kulihat wajah putih yang masih tersenyum manis. Masukkan Nenek dan Kakekku ku ke dalam syurgaMu, Ya Allah Jalla Jalaaluh, Engkaulah Allah yang Maha Mengabulkan Permintaan seorang cucu kepada Nenek dan Kakeknya.

Sayang aku tak pernah berjumpa kakek. Jadi tak ada kenangan yang dapat kukisah. Tulisan ini juga untukmu Kakek ku! Karena kau telah mendidik nenek menjadi wanita hebat hingga ke anak cucu mu.

Bukan hanya saat tidur ia sematkan kalimat sakti di otak kami, cucu-cucunya, tapi ia bisa saja melakukan itu saat kami belajar atau bermain sekalipun. Perfect Brainwashing of Family Education ini dilakukan hingga ia jatuh sakit.

Nenek telah berhasil membuat aku sukses. Menjadi manusia yang sadar diri. Doanya telah menjadi perisai hidup keluarga kami. Disadari atau tidak, aku banyak terpengaruh dari beliau menjalani hidup. Belajar untuk bertahan dan menyerang saat diperlukan.

Ampunkan nenekku Ya Rahman, Luaskan kuburnya Ya Rahim, Lipat Gandakan kebaikannya semasa hidup Ya Hayyu Ya Qayyum. Jadikan kami keturunannya termasuk golongan sholeh/sholehah.
Jadikan kenangan kami dalam tulisan ini menjadi amal jariah teruntuk nenek dan kakeku Ya Allah Jalla Jalaaluh.
 
Allahumma sholli 'ala Muhammad, wa'ala ali Muhammad, kama shollaita 'ala Ibrohim wa'ala 'ali Ibrohim, wa barik 'ala Muhammad wa'ala 'ali Muhammah, kama barokta 'ala Ibrohim wa'ala 'ali Ibrohim. Fil 'alamina, innaka hamidum majid



Note: 
Pancung          : (Melayu Kalbar): penggal kepal
Arab Melayu   : Tulisan arab yang dibaca melayu
Berakal          : Dapat membedakan baik dan buruk
Sambas Negri : sebutan untuk Kota Sambas zaman penajajahan
Nong              : Panggilan kesayangan anak
Nulong           : Tolong/ menolong
Be                  : Imbuhan (seperti bah dalam bahasa batak)
Gilak             : Terlalu, berlebihan
Urang             : Orang/manusia

0 comments:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews