Selamat Membaca dan Jangan Lupa Isikan Komentar Anda Ya.....
Barangsiapa belajar ilmu figh tanpa belajar tassawuf maka ia adalah fasiq. Siapa saja yang belajar Ilmu Tassawuf tanpa belajar Ilmu Figh maka ia adalah Zindiq, dan siapa saja yang mengumpulkan keduanya, maka ia adalah ahli Hakikat (Syeikh Al Fasi, Qawaid Al-Tasawwuf)

Wednesday, 15 June 2011

Apakah Allah Satu? (Al Hallaj)

kakayicalligraphy.webs.com
Bahasa Arab boleh jadi menjadi satu-satunya bahasa yang tak pernah berubah dari manusia pertama menggunakan bahasa itu hingga sekarang ini. Karena menjadi sebagai salah satu penyebab saja Al Quran diturunkan di Tanah Arab, maka kemurnian dalam penterjemahanpun terjaga.

Tak pelak ketika membedah ilmu bahasa, pengenalan akan makna tersirat dan tersurat. Begitulah yang terjadi dengan Sang MArtir Al Hallaj. Dengan bahasa telanjang dan seringpula penuh kias dan terkesan bias telah  dianggap memprovokasi kepercayaan Islam pada masa hidupnya. Translasi, interpretasi, dan appresisi beragam ditambah aroma politik (menurut sebaian Ahli sejarah) mengharuskan Sang Martir dihukum gantung.
Silang pendapat masih menjadi topik hangat akan tuduhan kafir atau tidak terhadap Husein Bin Mansyur Al Hallaj. Terlepas dari itu semua hamba mencoba melihat kebenaran yang datang dari pada Al Hallaj, layaknya belajar bertanam padi dengan pemangsanya.

Kecendrungan menggunakan bahasa kiasan selalu menjadi pilihan tepat bagi sufi dalam mengungkapkan pergolakan batin ak Dia. Itupun seringkali disertai dengan peringatan bahwa kata-kata takan pernah benar-benar mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi.


Tauhid yang mereka yakini sebenarnya tak berhubungan dengan Allah. Sebab mengkonsepsikan Allah kedalam bilangan membuat kondisiNyamenjadi terbatas.

Bila mereka menafsirkan Tauhid sebagai "angka satu", maka mereka telah mengkonsepsikan Allah kedalam bilangan, mereka telah menambahkan Allah kedalam bilangan, mereka telah menambahkan "sesuatu" kepada Tauhid, mereka telah membuat seolah-olah Allah tergantung kepada makhlukNya dan hadir dari ketiadaan.

Padahal ketergantungan bukanlah sifat Allah.

Seluruh perbandingan dan konsepsi manusia tak pernah bisa menjelaskan Kebenaran,
Kebenaran dan Kebenaran adalah Satu, adalah kesatuan tak terjelaskan, yang melingkupi segala sesuatu.

Segala yang kita anggap benar atau tidak benar tak pernah berasal dari Esensi Nya, dari Kebenaran Tertinggi, dari Kebenaran.
(Kitab Tasin X, Kitab Tentang Transedensi, Ayat 9)

Atau dengan perkataan  lain :

Dan bila aku berkata tentang Satu, sama seperti pengertian tentang angka satu, maka berarti aku telah membuatNya dibatasi oleh angka, tapi bagaimana mungkin Dia bisa dibatasi oleh angka ?
(Tasin X, Kitab Kesatuan Suci, Ayat 8)


Wallahualam...........

Artikel Terkait:

Post a Comment
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

PRAY TIME

Apakah Allah Satu? (Al Hallaj)

kakayicalligraphy.webs.com
Bahasa Arab boleh jadi menjadi satu-satunya bahasa yang tak pernah berubah dari manusia pertama menggunakan bahasa itu hingga sekarang ini. Karena menjadi sebagai salah satu penyebab saja Al Quran diturunkan di Tanah Arab, maka kemurnian dalam penterjemahanpun terjaga.

Tak pelak ketika membedah ilmu bahasa, pengenalan akan makna tersirat dan tersurat. Begitulah yang terjadi dengan Sang MArtir Al Hallaj. Dengan bahasa telanjang dan seringpula penuh kias dan terkesan bias telah  dianggap memprovokasi kepercayaan Islam pada masa hidupnya. Translasi, interpretasi, dan appresisi beragam ditambah aroma politik (menurut sebaian Ahli sejarah) mengharuskan Sang Martir dihukum gantung.
Silang pendapat masih menjadi topik hangat akan tuduhan kafir atau tidak terhadap Husein Bin Mansyur Al Hallaj. Terlepas dari itu semua hamba mencoba melihat kebenaran yang datang dari pada Al Hallaj, layaknya belajar bertanam padi dengan pemangsanya.

Kecendrungan menggunakan bahasa kiasan selalu menjadi pilihan tepat bagi sufi dalam mengungkapkan pergolakan batin ak Dia. Itupun seringkali disertai dengan peringatan bahwa kata-kata takan pernah benar-benar mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi.


Tauhid yang mereka yakini sebenarnya tak berhubungan dengan Allah. Sebab mengkonsepsikan Allah kedalam bilangan membuat kondisiNyamenjadi terbatas.

Bila mereka menafsirkan Tauhid sebagai "angka satu", maka mereka telah mengkonsepsikan Allah kedalam bilangan, mereka telah menambahkan Allah kedalam bilangan, mereka telah menambahkan "sesuatu" kepada Tauhid, mereka telah membuat seolah-olah Allah tergantung kepada makhlukNya dan hadir dari ketiadaan.

Padahal ketergantungan bukanlah sifat Allah.

Seluruh perbandingan dan konsepsi manusia tak pernah bisa menjelaskan Kebenaran,
Kebenaran dan Kebenaran adalah Satu, adalah kesatuan tak terjelaskan, yang melingkupi segala sesuatu.

Segala yang kita anggap benar atau tidak benar tak pernah berasal dari Esensi Nya, dari Kebenaran Tertinggi, dari Kebenaran.
(Kitab Tasin X, Kitab Tentang Transedensi, Ayat 9)

Atau dengan perkataan  lain :

Dan bila aku berkata tentang Satu, sama seperti pengertian tentang angka satu, maka berarti aku telah membuatNya dibatasi oleh angka, tapi bagaimana mungkin Dia bisa dibatasi oleh angka ?
(Tasin X, Kitab Kesatuan Suci, Ayat 8)


Wallahualam...........

0 comments:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews