Selamat Membaca dan Jangan Lupa Isikan Komentar Anda Ya.....
Barangsiapa belajar ilmu figh tanpa belajar tassawuf maka ia adalah fasiq. Siapa saja yang belajar Ilmu Tassawuf tanpa belajar Ilmu Figh maka ia adalah Zindiq, dan siapa saja yang mengumpulkan keduanya, maka ia adalah ahli Hakikat (Syeikh Al Fasi, Qawaid Al-Tasawwuf)

Sunday, 5 June 2011

Al Quran Vs. Membebaskan Diri

Membebaskan diri  adalah merujuk kepada membebaskan diri dari daya dan kekuatan sendiri, dan dari memandang diri sendiri dengan pandangan ridha dan suci.

Apabila ia membaca ayat pujian dan pujian terhadap orang saleh, janganlah memandang dirinya disitu dan berhak menduduki derajat itu, tetapi menyaksikan muqinin (orang-orang yang yakin) dan shadiddqin didalamnya.  Dan is sangat menginginkan Allah Azza wa Jalla mengangkatnya pada derajat mereka. Sebaliknya, apabila membaca ayat-ayat murka dan cercaan terhadap orang-orang durhaka dan lalai, maka ia manyaksikan dirinya berada di dalamnya, dan ia menetapkan bahwa dirinyalah yang dimaksud oleh khitab itu sehingga ia merasa takut dan cemas. Oleh karena itu Umar bin Khattab ra. berkata  dalam munajatnya :

"Ya Allah, sesungguhnya saya mohon ampun kepada Engkau karena kezhaliman dan kekufuranku."

Kemudian ia ditanya: "Bagaimana engkau zhalim dan kufur ?"
Lalu ia menjawab dengan firman Allah Ta'ala : "Sesungguhnya manusia sangat zhalim dan sangat mengingkari. (QS Ibrahim : 34)

Yusuf bin Ashbath ra. ditanya : "Apabila kamu membaca Al Quran, berdoa apakah kamu?" Yusuf menjawab: "saya mohon kepada Allah Azza wa Jalla atas kelalaian dengan tujuh puluh kali."

Apabila seseorang melihat dirinya dengan bentuk kelalaian disaat membaca, maka pandangannya itu menjadi sebab dekatnya kepada Allah. Karena barangsiapa memandang kejauhan tampak dekat, maka pandangannya itu mendekatkannya kepada rasa takut, sehingga rasa takut itu menuntun nya ketingkat lain dalam kedekatan di baliknya. Dan barangsiapa menyaksikan dekat sebagai jauh, maka ia terpedaya dengan perasaan aman yang melimpahkannya kepada tingkatan yang lain dalam kejauahan yang lebih rendah dari kenyataan yang ada. Apabila ia tidak lagi melihat dirinya dan tidak menyaksiakan kecuali kepada Allah Azza wa Jalla dalam bacaannya, maka tersingkaplah baginya rahasia malakut. (semoga Allah melimpahkan kita pada penyaksian Allah Jalla Jalaaluh)

Abu Sulaiman Ad Darani ra. berkata "Ibn Tsaban berjanji akan berbuka dirumah saudaranya, lalu ia terlambat hingga fajar terbit. Keesokan harinya, saudaranya menjumpai dan berkata kepadanya: "Kamu telah berjanji akan berbuka di rumahku namun kamu mengingkarinya. Ibn Tsauban berkata: "Seandainya tidak karena janjiku kepadamu tentu saya tidak akan memberitahukan kepadamu mengenai yang menghalangiku terhadapmu. Sesungguhnya sewaktu saya sholat Isya, saya berkata: "Saya mau sholat witr dulu sebelum saya datang kerumahmu, karena saya tidak merasa nyaman dari kematian yangmendatangiku. Ketika saya berdoa witir, saya melihat suatu taman hijau dengan aneka macam bunga syura, dan saya memandanginya sampai masuk pagi."

Mukasyafah (penyaksian) ini tidak akan terjadi kecuali telah terbebas dari nafsu, tidak memperhatikan dan tidak memperturutkan keinginannya. Mukasyafah ini diistimewakan menururt orang yang khasyaf, dimana sekiranya ia membaca ayat-ayat raja' dan rasa gembira mengalahkan keadaan dirinya, maka terbukalah bentuk syurga bagi dirinya, lalu ia menyaksikannya seolah-olah melihat syurga sebenarnya. Jika rasa takut menguasai dirinya, maka terbukalah neraka, sehingga melihat berbagai macam siksaan.nya.

Demikian itu karena firman Allah Azza wa Jalla membuat kemudahan yang lembut dan kesulitan yang keras, sesuatu yang diharapkan dan sesuatu yang ditakuti. Dan semua itu menurut sifat-sifatnya, karena sebagiannya rahmat dan belas kasih, dan sebagian yang lain siksaan dan kekerasan. Maka dengan menyaksiakan kalimat0kalimat dan sifat-sifat tersebut, hati berubah ubah dalam keadaan berbeda-beda.

Karena adanya keadaan yang berbeda-beda itu, meka untuk mukasyafah itu dipersiapkan dengan perkara yang sesuai dengan keadaan itu dan yang mendekatinya. Karena mustahil jika keadaaan yang mendengar itu satu, sedang yang didengar itu berbeda-beda. Karena didalam Al Quran itu terdapat firman yang menyenangkan, firman yang berisi kemurkaan, kenikmatan, siksaan, dan firman Dzat Yang Maha Perkasa Lagi Maha Besar yang tidak memperdulikan seoran, serta firmat Dzat YAng Maha Penyayang lagi Maha Kasih yang tidak menyia-nyiakan.


Artikel Terkait:

Post a Comment
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

PRAY TIME

Al Quran Vs. Membebaskan Diri

Membebaskan diri  adalah merujuk kepada membebaskan diri dari daya dan kekuatan sendiri, dan dari memandang diri sendiri dengan pandangan ridha dan suci.

Apabila ia membaca ayat pujian dan pujian terhadap orang saleh, janganlah memandang dirinya disitu dan berhak menduduki derajat itu, tetapi menyaksikan muqinin (orang-orang yang yakin) dan shadiddqin didalamnya.  Dan is sangat menginginkan Allah Azza wa Jalla mengangkatnya pada derajat mereka. Sebaliknya, apabila membaca ayat-ayat murka dan cercaan terhadap orang-orang durhaka dan lalai, maka ia manyaksikan dirinya berada di dalamnya, dan ia menetapkan bahwa dirinyalah yang dimaksud oleh khitab itu sehingga ia merasa takut dan cemas. Oleh karena itu Umar bin Khattab ra. berkata  dalam munajatnya :

"Ya Allah, sesungguhnya saya mohon ampun kepada Engkau karena kezhaliman dan kekufuranku."

Kemudian ia ditanya: "Bagaimana engkau zhalim dan kufur ?"
Lalu ia menjawab dengan firman Allah Ta'ala : "Sesungguhnya manusia sangat zhalim dan sangat mengingkari. (QS Ibrahim : 34)

Yusuf bin Ashbath ra. ditanya : "Apabila kamu membaca Al Quran, berdoa apakah kamu?" Yusuf menjawab: "saya mohon kepada Allah Azza wa Jalla atas kelalaian dengan tujuh puluh kali."

Apabila seseorang melihat dirinya dengan bentuk kelalaian disaat membaca, maka pandangannya itu menjadi sebab dekatnya kepada Allah. Karena barangsiapa memandang kejauhan tampak dekat, maka pandangannya itu mendekatkannya kepada rasa takut, sehingga rasa takut itu menuntun nya ketingkat lain dalam kedekatan di baliknya. Dan barangsiapa menyaksikan dekat sebagai jauh, maka ia terpedaya dengan perasaan aman yang melimpahkannya kepada tingkatan yang lain dalam kejauahan yang lebih rendah dari kenyataan yang ada. Apabila ia tidak lagi melihat dirinya dan tidak menyaksiakan kecuali kepada Allah Azza wa Jalla dalam bacaannya, maka tersingkaplah baginya rahasia malakut. (semoga Allah melimpahkan kita pada penyaksian Allah Jalla Jalaaluh)

Abu Sulaiman Ad Darani ra. berkata "Ibn Tsaban berjanji akan berbuka dirumah saudaranya, lalu ia terlambat hingga fajar terbit. Keesokan harinya, saudaranya menjumpai dan berkata kepadanya: "Kamu telah berjanji akan berbuka di rumahku namun kamu mengingkarinya. Ibn Tsauban berkata: "Seandainya tidak karena janjiku kepadamu tentu saya tidak akan memberitahukan kepadamu mengenai yang menghalangiku terhadapmu. Sesungguhnya sewaktu saya sholat Isya, saya berkata: "Saya mau sholat witr dulu sebelum saya datang kerumahmu, karena saya tidak merasa nyaman dari kematian yangmendatangiku. Ketika saya berdoa witir, saya melihat suatu taman hijau dengan aneka macam bunga syura, dan saya memandanginya sampai masuk pagi."

Mukasyafah (penyaksian) ini tidak akan terjadi kecuali telah terbebas dari nafsu, tidak memperhatikan dan tidak memperturutkan keinginannya. Mukasyafah ini diistimewakan menururt orang yang khasyaf, dimana sekiranya ia membaca ayat-ayat raja' dan rasa gembira mengalahkan keadaan dirinya, maka terbukalah bentuk syurga bagi dirinya, lalu ia menyaksikannya seolah-olah melihat syurga sebenarnya. Jika rasa takut menguasai dirinya, maka terbukalah neraka, sehingga melihat berbagai macam siksaan.nya.

Demikian itu karena firman Allah Azza wa Jalla membuat kemudahan yang lembut dan kesulitan yang keras, sesuatu yang diharapkan dan sesuatu yang ditakuti. Dan semua itu menurut sifat-sifatnya, karena sebagiannya rahmat dan belas kasih, dan sebagian yang lain siksaan dan kekerasan. Maka dengan menyaksiakan kalimat0kalimat dan sifat-sifat tersebut, hati berubah ubah dalam keadaan berbeda-beda.

Karena adanya keadaan yang berbeda-beda itu, meka untuk mukasyafah itu dipersiapkan dengan perkara yang sesuai dengan keadaan itu dan yang mendekatinya. Karena mustahil jika keadaaan yang mendengar itu satu, sedang yang didengar itu berbeda-beda. Karena didalam Al Quran itu terdapat firman yang menyenangkan, firman yang berisi kemurkaan, kenikmatan, siksaan, dan firman Dzat Yang Maha Perkasa Lagi Maha Besar yang tidak memperdulikan seoran, serta firmat Dzat YAng Maha Penyayang lagi Maha Kasih yang tidak menyia-nyiakan.


0 comments:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews