Selamat Membaca dan Jangan Lupa Isikan Komentar Anda Ya.....
Barangsiapa belajar ilmu figh tanpa belajar tassawuf maka ia adalah fasiq. Siapa saja yang belajar Ilmu Tassawuf tanpa belajar Ilmu Figh maka ia adalah Zindiq, dan siapa saja yang mengumpulkan keduanya, maka ia adalah ahli Hakikat (Syeikh Al Fasi, Qawaid Al-Tasawwuf)

Saturday, 29 October 2011

Sabar Menunda Haji

Peta Arab zaman Nabi Muhammad
Sebelum kusalin kisah hikmah yang kudapat dari sobekan kertas lama, ada baiknya kuhaturkan kisah singkat sebagai gamabaran mengapa CS menampilkan postingan in. Kisah ini ku dengar dari obrolan saudaraku (seingatku) tentang temannya yang ingin menunaikan ibadah haji tahun ini 2011. Ketika tulisan ini diposting, pemberangkatan haji Indonesia  sudahlah menunaikan ibadah haji. Kuota tahunan telah ditetapkan pemerintah Indonesia untuk yang seyogyanya harus menunggu sekian tahun. Lamanya itu tergantung pada kuota kabupaten. Teman saudaraku berujar bahwa temannya ingin sekali menunaikan ibadah haji tahun ini.
Dengan kesibukan kerja yang menumpuk rasanya sang kaya ini tak sabar menunggu antrian yang dirasa begitu lama. Simpul kisahnya terucaplah sepatah kalimat pamungkas. "Seandainya ada yang dapat membantu diriku untuk menunaikan ibadah haji mejadi tahun ini, berapapun akan aku bayar."
Tentunya saudaraku muslim sangat faham makana ungkapan diatas tanpa harus diperpanjang lagi. Ungkapan ini mungkin telah berlaku di tiap orang sekarang. Semoga kami dan engkau wahai pembaca budiman, terhindar dari pemikiran untuk menyuap dan disuap, karena keduanya adalah golongan ahli neraka. Na'uzubillah.

Marilah kita simak perjalanan Abdullah bin Al Mubarak yang akan menghadap Allah di Baitullah.

Abdullah bin Al Mubarak adalah ualama yang biasa melakukan haji pada tahun tertentu dan keluar berjihad pada tahun yang lain. Ia menuturkan pengalaman pribadinya seraya mengatakan bahwa pada tahun saat ia hendak melaksanakan ibadah haji, ia pergi ke pasar unta di Kuffah (salah satu daerah di Irak) untuk membeli seekor unta. Dalam perjalanan ia bertemu seorang perempuan yang seadang mencabuti bulu seekor unggas yang ia yakini telah menjadi bangkai.

Sesaat mendekati perempuan itu, Abdullah bin Al Mubarak bertanya, "Mengapa engkau lakukan itu?" Perempuan itu menjawab,"Wahai hamba Allah, janganlah menanyakan sesuatu yang bukan urursanmu."

Mendengar jawabannya, tersirat sesuatu dalam benak Abdullah bin Al Mubarak sehingga ia melanjutkan pertanyaan demi pertanyaan. Ia pun kemudian menjawab, Wahai hamba Allah, engkau terus mendesakku untuk menyampaikan rahasiaku. Semoga Allah Jalla Jalaaluh memberkahimu, aku mempunyai empat orang anak peremepuan. Ayah mereka baru saja meninggal dunia. Hari ini adalah hari ke empat kami tidak makan apapun. Bangkai unggas ini kutemukan dan aku akan membawanya kepada anak-anakku!"

Mendengar jawaban perempuan itu, Abdullah bin Al Mubarak berkata pada dirinya sendiri, "Betapa engkau tega wahai Abdullah bin Al Mubarak, dimana kepedulianmu terhadap keadaan orang seperti ini?"

Perasaan memberontak di dalam hatinya telah mendorong dirinya untuk mengeluarkan semua uang yang ia bawa dan diberikan kepada perempuan itu seraya berkata,"Bawalah semua ini agar keluargamu lebih baik." Hasrat pergi hajipun telah diambil Allah di dalam hatinya tahun ini. Kemudian ia bergegas pulang ke kampung halamannya.

Ketika para tetangga dan teman-temannya yang tahun itu pergi haji sudah pulang, ia mengunjungi mereka dan mengucapkan selamat dan doa, semoga kiranya ibadah haji dan umroh mereka diterima Allah Subhanahu wata'ala. Namun betapa terkejutnya Abdullah bin Al Mubarak, merekapun memeberikan selamat dan doa yang sama kepada dirinya. Pada malam harinya ia merebahkan dirinya sambil merenungi ucapan mereka itu. Terlelap dalam tidurnya, ia bermimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad saw dan diberitahu agar tidak heran karena ia telah memberi pertolongan kepada hamba nestapa sehingga Allah mengirim malaikat dalam bentuk wujud Abdullah bin Al Mubarak untuk menghajikan dirinya.

Artikel Terkait:

Post a Comment
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

PRAY TIME

Sabar Menunda Haji

Peta Arab zaman Nabi Muhammad
Sebelum kusalin kisah hikmah yang kudapat dari sobekan kertas lama, ada baiknya kuhaturkan kisah singkat sebagai gamabaran mengapa CS menampilkan postingan in. Kisah ini ku dengar dari obrolan saudaraku (seingatku) tentang temannya yang ingin menunaikan ibadah haji tahun ini 2011. Ketika tulisan ini diposting, pemberangkatan haji Indonesia  sudahlah menunaikan ibadah haji. Kuota tahunan telah ditetapkan pemerintah Indonesia untuk yang seyogyanya harus menunggu sekian tahun. Lamanya itu tergantung pada kuota kabupaten. Teman saudaraku berujar bahwa temannya ingin sekali menunaikan ibadah haji tahun ini.
Dengan kesibukan kerja yang menumpuk rasanya sang kaya ini tak sabar menunggu antrian yang dirasa begitu lama. Simpul kisahnya terucaplah sepatah kalimat pamungkas. "Seandainya ada yang dapat membantu diriku untuk menunaikan ibadah haji mejadi tahun ini, berapapun akan aku bayar."
Tentunya saudaraku muslim sangat faham makana ungkapan diatas tanpa harus diperpanjang lagi. Ungkapan ini mungkin telah berlaku di tiap orang sekarang. Semoga kami dan engkau wahai pembaca budiman, terhindar dari pemikiran untuk menyuap dan disuap, karena keduanya adalah golongan ahli neraka. Na'uzubillah.

Marilah kita simak perjalanan Abdullah bin Al Mubarak yang akan menghadap Allah di Baitullah.

Abdullah bin Al Mubarak adalah ualama yang biasa melakukan haji pada tahun tertentu dan keluar berjihad pada tahun yang lain. Ia menuturkan pengalaman pribadinya seraya mengatakan bahwa pada tahun saat ia hendak melaksanakan ibadah haji, ia pergi ke pasar unta di Kuffah (salah satu daerah di Irak) untuk membeli seekor unta. Dalam perjalanan ia bertemu seorang perempuan yang seadang mencabuti bulu seekor unggas yang ia yakini telah menjadi bangkai.

Sesaat mendekati perempuan itu, Abdullah bin Al Mubarak bertanya, "Mengapa engkau lakukan itu?" Perempuan itu menjawab,"Wahai hamba Allah, janganlah menanyakan sesuatu yang bukan urursanmu."

Mendengar jawabannya, tersirat sesuatu dalam benak Abdullah bin Al Mubarak sehingga ia melanjutkan pertanyaan demi pertanyaan. Ia pun kemudian menjawab, Wahai hamba Allah, engkau terus mendesakku untuk menyampaikan rahasiaku. Semoga Allah Jalla Jalaaluh memberkahimu, aku mempunyai empat orang anak peremepuan. Ayah mereka baru saja meninggal dunia. Hari ini adalah hari ke empat kami tidak makan apapun. Bangkai unggas ini kutemukan dan aku akan membawanya kepada anak-anakku!"

Mendengar jawaban perempuan itu, Abdullah bin Al Mubarak berkata pada dirinya sendiri, "Betapa engkau tega wahai Abdullah bin Al Mubarak, dimana kepedulianmu terhadap keadaan orang seperti ini?"

Perasaan memberontak di dalam hatinya telah mendorong dirinya untuk mengeluarkan semua uang yang ia bawa dan diberikan kepada perempuan itu seraya berkata,"Bawalah semua ini agar keluargamu lebih baik." Hasrat pergi hajipun telah diambil Allah di dalam hatinya tahun ini. Kemudian ia bergegas pulang ke kampung halamannya.

Ketika para tetangga dan teman-temannya yang tahun itu pergi haji sudah pulang, ia mengunjungi mereka dan mengucapkan selamat dan doa, semoga kiranya ibadah haji dan umroh mereka diterima Allah Subhanahu wata'ala. Namun betapa terkejutnya Abdullah bin Al Mubarak, merekapun memeberikan selamat dan doa yang sama kepada dirinya. Pada malam harinya ia merebahkan dirinya sambil merenungi ucapan mereka itu. Terlelap dalam tidurnya, ia bermimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad saw dan diberitahu agar tidak heran karena ia telah memberi pertolongan kepada hamba nestapa sehingga Allah mengirim malaikat dalam bentuk wujud Abdullah bin Al Mubarak untuk menghajikan dirinya.

0 comments:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews