Selamat Membaca dan Jangan Lupa Isikan Komentar Anda Ya.....
Barangsiapa belajar ilmu figh tanpa belajar tassawuf maka ia adalah fasiq. Siapa saja yang belajar Ilmu Tassawuf tanpa belajar Ilmu Figh maka ia adalah Zindiq, dan siapa saja yang mengumpulkan keduanya, maka ia adalah ahli Hakikat (Syeikh Al Fasi, Qawaid Al-Tasawwuf)

Wednesday, 6 July 2011

Makna dan Definisi Tasawwuf

Sunset in Sungai Duri
"Apalah artniya sebuah nama". Boleh jadi kalimat Shakespeare ini menjadi pemikiran terbalik bagi Islam khususnya para pencari Allah-Sufi. Lewat perjalan dan proses pembelajaran hati yang panjang. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. Kalimat filosofis ini dikuatkan oleh Nabi bahwa Beliau pernah mengubah bama Abdul Uzza dengan Abdullah atau Abdurrahman, Sha'b (susah) menjadi Shal (mudah), Ashiyah (ahli maksiat) menjadi Jamilah (sei cantik), Abu Hakam menjadi Abu Syuraih, Ashram (tanah yang tandus) menjadi Zur'ah (lahan yang mudah diolah).
Belum lagi jika merujuk perkataan Rosulullah menganjurkan untuk memeberi nama yang baik buat anak.

Beranjak ke lebih mendalam memaknai tasawwuf para ahli memberikan beragam pengertian. Pasal nya tak mudah untuk memberikan jawaban yang definitf sebagaimana menjawab yang positif. Banyak sisi yang harus dilihat untuk menghindari pengertian yang mengkotak-kotakkan arkhirnya. Kurang lengkap. Hal ini bukanlah menutup kemungkinan untuk di definika tentunya. Pendifinisian yang berbeda pula karena latar belakang, asal pengkajian dan sudut pandang yang berragam namun hakekatnya satu tujuan. Yaitu menjelaskan tujuan tasawwuf secara benar dan mudah difahami.

Prof. Dr.H. Abu Bakar Aceh berpendapat bahwa pada hakikatnya tasawwuf dapat diartikan mencari jalan untuk memperoleh kecintaan dan kesempurnaan rohani. Menuurut Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Zain bin Mushtafa Al Fathani dalam bukunya "Haqiqatul Azhar", tasawwuf adalah orang yang memakai shuf (lihat Asal Muasal Kata Tasawwuf). Mereka membedakan dengan orang yang bermegah-megahan dengan harta dunia dan kemegahan. Mereka puas dengan cukup berpakaian dari shuf untuk sekedar menutup aurat. Makan sekedarnya dan beribadah sekuatnya.

Sebagian lagi mengartikannya dengan berakhlak mulia dengan segala perangai athaifatush dan bertawassul dengan segala sifat mereka.sehingga mempererat hubungan sesama mereka dan mereka dekat dengan Allah. (baca pula  Munculnya Tarekat). Ada pula yang mendefinisikan berpegang pada adab yang disyara'kan baik lahir maupun batin. Dapat pula diartikan dengan merujuk kepada kesempurnaan manusia adalah dengan Islam, Iman dan Ihsan. Disamping itu pula ada yang berkata "Berserah diri secara total hanya kepada Allah Jalla Jalaaluh".

Mari kita simak beberapa pendapat mashur dari para ulama:

1. Syaikh Abul Qasim Al-Junaidi bin Muhammad Al Khazzaz Al-Nahwandi mengatakan:
"Tasawwuf ialah hendaknya keadaanmu beserta Allah tanpa adanya perantara"
"Peneyerahan dirimu kepada Allah Jalla Jalaaluh dan bukan tujuan yang lain(dalam segala hal dan kondisi)"
"Memurnikan hati dari berhubungan dengan makhluk-makhluk lain, meninggalkan sifat-sifat alamiyah, menekan sifat manusiawi, menghindari godaan jasmani, mengambil sifat-ruh, mengikat diri pada ilmu-ilmu hakikat, mengumpulkan segala sesuatu untuk masa yang kekal, menasehati seluruh ummat, sungguh sungguh beriman kepada Allah dan mengikuti syariat Rosulullah SAW."
"Engkau tidak dilalaikan oleh dirimu sendiri dan dihidupkan oleh Allah SWT.

2. Syaikh Ma'aruf bin Al Faizan Abu Mahfudh Al Abid yang dikenal dengan Al Karkhi berkata:
" Tasawwuf adalah mencari hakikat dan meninggalkan sesuatu yang ada di tangan makhluk"

3. Syaikh Abul Husaien Ahmad bin Muhammad An Nuri berpendapat: Tasawwuf bukan suatu bentuk ilmu, tetapi moral. Karen bila tasawwuf merupakan suatu bentuk tentu akan bisa dicapai dengan perjuangan. Begitu juga bila tasawwuf suatu bentuk ilmu, tentunya dapat dicapai dengan cara menuntunnya. Namun tasawwuf adalah berakhlak dengan akhlak Allah. Dan akhlak Ilahi tidakdapat dicapai dengan ilmu dan gambaran."

4. Syaikh Abul Faidl Dzunnun Al Mishri berkata:
"Sufi adalah orang yang tidak payah karena mencari dan tidak susah karena musnahnya milik"

5. Syaikh Abu Muhammad Sahl bin Abdullah At Tustari berkata:
" Sufi adalah orang yang bersih dari kotoran-kotoran (kekeruhan) dan penuh pemikiran dan hanya memusatkan pada Allah semata-mata tanpa manusia dan sama baginya harta benda dan tanah liat."

6. Syaikh Abu Bakar Ibnu Jahdar Al Syibli berkata:
"Permlaan adalah ma'rifat akan Allah dan diakhiri dengan pengesaanNya.
" Tasawwuf adalah pengendalian diri artinya selalu berupaya untuk tidak memperlihatkan sesuatu selain Allah Jalla Jalaaluh."

7. Ja'far Al Khalidi berkata:
" Tasawwuf itu memusatkan jiwa dalam ibadah dan keluar dari kemanusiaan serta memandang pada yang Al Haq secara menyeluruh."

8. Abu ALi Husein Abnu Abdillah Ibnu Sina:
" Seseorang menjauhi kesenangan dan kenikmatan duniawi dinamakan Az Zahid. Seseorang yang menekuni ibadah dinamakan Al Abid.  Sedangkan orang yang memusatkan pikirannya pada kesuciannya dan mengharap terbitnya cahaya Al HAq dalam hati dinamakan "Al-Arif atau "Ash Shufi".

9. Prof. Dr. H. Abul MAlik Karim Amrullah (HAMKA): 
"Tasawwuf adalah membersihkan jiwa dari pengaruh benda atau alam supaya ia mudah menuju Allah Jalla Jalaaluh.

Sebenarnya banyak lagi pemaknaan yang dapat kita temui dalam karangan kitab-kitab orang shleh lainnya. Disini cerita sufi hanya mengutip sebagian kecil saja.

Abul Fida' seorang pakar sejarah Islam terkemka yang mencoba melacak ke sumber asalnya berpendapat bahwa sufi telah ada sejak zaman Rosulullah yaitu Ashabi safa yaitu orang-orang yang duduk disekelling Ka'bah. Mereka adalah orang asing yang fakir. tidak mempunyai sahabat dan tempat tinggal tetap yang mendambakan janji-jani kerasulan dari Tuhan serta perlindungan dari Nya. Dan disitunlah mereka mendapat sebutan. Apabila Rosulullah hendak makan mereka diundang untuk makan bersama, Baik Rosulullah atau mereka sendiri belum menyebut orang-orang ini dengan sebutan Sufi.

Syaikh Syihabuddin Suhrawardi dalam "Awariful Ma'rifat" menyebutkan beberapa pendapat :

Dimulainya penyebutan kata tasawwuf atau sufi pada zaman tabi'in sebagaimana Hasan Basri berkata "Aku melihat seorang sufi diwaktu thawaf maka kuberikan padanya sesuatu, dia tidak mengambilnya dan berkata : " Aku punya uang empat Daniq (2/3 Dirham) kiranya itu sudah mencukupi apa yang aku punya."
Pendapat ini mengatakan bahwa penyebutan tassawuf atau sufi sejak zaman tabi'in sebagaimana Hasan Bashri
bependapat :

"Aku melihat seorang sufi diwaktu thawaf, maka kuberikan padanya sesuatu, dia tidak mengambil dan berkata : " Aku punya uang empat daniq (2/3 dirham) kiranya sudah mencukupi yang ada padaku".

Berkata pula Sufyan bahwa "Andaikata bukan Abu Hasyim (orang pertama digela sufi, Wafat 150H/761M) yang Ahli Tassawwuf itu maka aku tidak mengetahui tentang riya' yang sangat kecil.

Inilah pendapat yang paling dekat dengan permasalahan tasawwuf.


Wallahualam......

Artikel Terkait:

Post a Comment
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

PRAY TIME

Makna dan Definisi Tasawwuf

Sunset in Sungai Duri
"Apalah artniya sebuah nama". Boleh jadi kalimat Shakespeare ini menjadi pemikiran terbalik bagi Islam khususnya para pencari Allah-Sufi. Lewat perjalan dan proses pembelajaran hati yang panjang. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. Kalimat filosofis ini dikuatkan oleh Nabi bahwa Beliau pernah mengubah bama Abdul Uzza dengan Abdullah atau Abdurrahman, Sha'b (susah) menjadi Shal (mudah), Ashiyah (ahli maksiat) menjadi Jamilah (sei cantik), Abu Hakam menjadi Abu Syuraih, Ashram (tanah yang tandus) menjadi Zur'ah (lahan yang mudah diolah).
Belum lagi jika merujuk perkataan Rosulullah menganjurkan untuk memeberi nama yang baik buat anak.

Beranjak ke lebih mendalam memaknai tasawwuf para ahli memberikan beragam pengertian. Pasal nya tak mudah untuk memberikan jawaban yang definitf sebagaimana menjawab yang positif. Banyak sisi yang harus dilihat untuk menghindari pengertian yang mengkotak-kotakkan arkhirnya. Kurang lengkap. Hal ini bukanlah menutup kemungkinan untuk di definika tentunya. Pendifinisian yang berbeda pula karena latar belakang, asal pengkajian dan sudut pandang yang berragam namun hakekatnya satu tujuan. Yaitu menjelaskan tujuan tasawwuf secara benar dan mudah difahami.

Prof. Dr.H. Abu Bakar Aceh berpendapat bahwa pada hakikatnya tasawwuf dapat diartikan mencari jalan untuk memperoleh kecintaan dan kesempurnaan rohani. Menuurut Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Zain bin Mushtafa Al Fathani dalam bukunya "Haqiqatul Azhar", tasawwuf adalah orang yang memakai shuf (lihat Asal Muasal Kata Tasawwuf). Mereka membedakan dengan orang yang bermegah-megahan dengan harta dunia dan kemegahan. Mereka puas dengan cukup berpakaian dari shuf untuk sekedar menutup aurat. Makan sekedarnya dan beribadah sekuatnya.

Sebagian lagi mengartikannya dengan berakhlak mulia dengan segala perangai athaifatush dan bertawassul dengan segala sifat mereka.sehingga mempererat hubungan sesama mereka dan mereka dekat dengan Allah. (baca pula  Munculnya Tarekat). Ada pula yang mendefinisikan berpegang pada adab yang disyara'kan baik lahir maupun batin. Dapat pula diartikan dengan merujuk kepada kesempurnaan manusia adalah dengan Islam, Iman dan Ihsan. Disamping itu pula ada yang berkata "Berserah diri secara total hanya kepada Allah Jalla Jalaaluh".

Mari kita simak beberapa pendapat mashur dari para ulama:

1. Syaikh Abul Qasim Al-Junaidi bin Muhammad Al Khazzaz Al-Nahwandi mengatakan:
"Tasawwuf ialah hendaknya keadaanmu beserta Allah tanpa adanya perantara"
"Peneyerahan dirimu kepada Allah Jalla Jalaaluh dan bukan tujuan yang lain(dalam segala hal dan kondisi)"
"Memurnikan hati dari berhubungan dengan makhluk-makhluk lain, meninggalkan sifat-sifat alamiyah, menekan sifat manusiawi, menghindari godaan jasmani, mengambil sifat-ruh, mengikat diri pada ilmu-ilmu hakikat, mengumpulkan segala sesuatu untuk masa yang kekal, menasehati seluruh ummat, sungguh sungguh beriman kepada Allah dan mengikuti syariat Rosulullah SAW."
"Engkau tidak dilalaikan oleh dirimu sendiri dan dihidupkan oleh Allah SWT.

2. Syaikh Ma'aruf bin Al Faizan Abu Mahfudh Al Abid yang dikenal dengan Al Karkhi berkata:
" Tasawwuf adalah mencari hakikat dan meninggalkan sesuatu yang ada di tangan makhluk"

3. Syaikh Abul Husaien Ahmad bin Muhammad An Nuri berpendapat: Tasawwuf bukan suatu bentuk ilmu, tetapi moral. Karen bila tasawwuf merupakan suatu bentuk tentu akan bisa dicapai dengan perjuangan. Begitu juga bila tasawwuf suatu bentuk ilmu, tentunya dapat dicapai dengan cara menuntunnya. Namun tasawwuf adalah berakhlak dengan akhlak Allah. Dan akhlak Ilahi tidakdapat dicapai dengan ilmu dan gambaran."

4. Syaikh Abul Faidl Dzunnun Al Mishri berkata:
"Sufi adalah orang yang tidak payah karena mencari dan tidak susah karena musnahnya milik"

5. Syaikh Abu Muhammad Sahl bin Abdullah At Tustari berkata:
" Sufi adalah orang yang bersih dari kotoran-kotoran (kekeruhan) dan penuh pemikiran dan hanya memusatkan pada Allah semata-mata tanpa manusia dan sama baginya harta benda dan tanah liat."

6. Syaikh Abu Bakar Ibnu Jahdar Al Syibli berkata:
"Permlaan adalah ma'rifat akan Allah dan diakhiri dengan pengesaanNya.
" Tasawwuf adalah pengendalian diri artinya selalu berupaya untuk tidak memperlihatkan sesuatu selain Allah Jalla Jalaaluh."

7. Ja'far Al Khalidi berkata:
" Tasawwuf itu memusatkan jiwa dalam ibadah dan keluar dari kemanusiaan serta memandang pada yang Al Haq secara menyeluruh."

8. Abu ALi Husein Abnu Abdillah Ibnu Sina:
" Seseorang menjauhi kesenangan dan kenikmatan duniawi dinamakan Az Zahid. Seseorang yang menekuni ibadah dinamakan Al Abid.  Sedangkan orang yang memusatkan pikirannya pada kesuciannya dan mengharap terbitnya cahaya Al HAq dalam hati dinamakan "Al-Arif atau "Ash Shufi".

9. Prof. Dr. H. Abul MAlik Karim Amrullah (HAMKA): 
"Tasawwuf adalah membersihkan jiwa dari pengaruh benda atau alam supaya ia mudah menuju Allah Jalla Jalaaluh.

Sebenarnya banyak lagi pemaknaan yang dapat kita temui dalam karangan kitab-kitab orang shleh lainnya. Disini cerita sufi hanya mengutip sebagian kecil saja.

Abul Fida' seorang pakar sejarah Islam terkemka yang mencoba melacak ke sumber asalnya berpendapat bahwa sufi telah ada sejak zaman Rosulullah yaitu Ashabi safa yaitu orang-orang yang duduk disekelling Ka'bah. Mereka adalah orang asing yang fakir. tidak mempunyai sahabat dan tempat tinggal tetap yang mendambakan janji-jani kerasulan dari Tuhan serta perlindungan dari Nya. Dan disitunlah mereka mendapat sebutan. Apabila Rosulullah hendak makan mereka diundang untuk makan bersama, Baik Rosulullah atau mereka sendiri belum menyebut orang-orang ini dengan sebutan Sufi.

Syaikh Syihabuddin Suhrawardi dalam "Awariful Ma'rifat" menyebutkan beberapa pendapat :

Dimulainya penyebutan kata tasawwuf atau sufi pada zaman tabi'in sebagaimana Hasan Basri berkata "Aku melihat seorang sufi diwaktu thawaf maka kuberikan padanya sesuatu, dia tidak mengambilnya dan berkata : " Aku punya uang empat Daniq (2/3 Dirham) kiranya itu sudah mencukupi apa yang aku punya."
Pendapat ini mengatakan bahwa penyebutan tassawuf atau sufi sejak zaman tabi'in sebagaimana Hasan Bashri
bependapat :

"Aku melihat seorang sufi diwaktu thawaf, maka kuberikan padanya sesuatu, dia tidak mengambil dan berkata : " Aku punya uang empat daniq (2/3 dirham) kiranya sudah mencukupi yang ada padaku".

Berkata pula Sufyan bahwa "Andaikata bukan Abu Hasyim (orang pertama digela sufi, Wafat 150H/761M) yang Ahli Tassawwuf itu maka aku tidak mengetahui tentang riya' yang sangat kecil.

Inilah pendapat yang paling dekat dengan permasalahan tasawwuf.


Wallahualam......

0 comments:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews