Selamat Membaca dan Jangan Lupa Isikan Komentar Anda Ya.....
Barangsiapa belajar ilmu figh tanpa belajar tassawuf maka ia adalah fasiq. Siapa saja yang belajar Ilmu Tassawuf tanpa belajar Ilmu Figh maka ia adalah Zindiq, dan siapa saja yang mengumpulkan keduanya, maka ia adalah ahli Hakikat (Syeikh Al Fasi, Qawaid Al-Tasawwuf)

Sunday, 27 November 2011

Unta "Abda", Penyampai Salam Fatimah Kepada Ayah Tercinta, Rosulullah saw

Queen of Jannah, Fatimah Azzahra
Imam Ali and their children
Setelah Rosulullah memperoleh kehormatan di alam ukhrawi, Fatimah tidak mau makan dan minum, dan ia melupakan segala canda-ria dan kebahagiaan. Fatimah sepanjang siang dan malam menangis mengenang ayah tercinta yang telah wafat.


Ia mengisi waktu dengan air mata dan menarik nafas panjang seolah ada sesuatu yang menekan perasaannya dan tidak ada satu pun yang mampu menghapus kesedihannya. Sesaat ia menyelesaikan pekeerjaan rumah dan merawat suaminya Ali Karamallahu Wajhah dan putra-putra mereka, Hasan dan Husein, ia kembali meneteskan air mata dan bergumam: " Duhai ayah tercintaku, menegapa engkau meninggalkan Fatimahmu?"

Enam bulan berlalu dalam situasi seperti ini, Fatimah menjadi semangkin kurus, sampai-sampai tidak ada sesuatupun yang tersisa kecuali kulit dan tulang yang menyelimuti tubuhnya

Suatu malam kala kesedihan itu menjadi-jadi, dalam tangisan sedu, ia mendengar suara dari luar memanggil-manggil: "Duhai putri tercinta Rosulullah, duhai putri tercinta Rosulullah,!" Ia mengintip keluar, ia mengetahui bahwa yang didengarnya adalah suara 'Adda', nama unta Rosulullah yang telah kabur dari Madinah setelah beliau wafat.

Kepergian Nabi membuat 'Abda'-sang unta seperti kebingungan, ia kabur ke pegunungan dan padang pasir. Beberapa hari kemudian ia daang lagi ke Madinah dan berdiri di pintu gerbang Mesjid Nabi, memandangi ruang tempat shalat Rosulullah, tetapi ia tidak menemukan Rosul. Ia meringkik dan mengeluarkan suara yang dalam emngusap-ngusapkan mukanya ke tanah dan meneteskan air mata dan kemudian berlari lagi ke padang pasir yang sunyi.

Kini unta itu telah tiba di depan pintu rumah Fatimah ra. dan berbicara dengan bahasa yang fasih:
"Hai putri Rosulullah! Mudah-mudahan Allah berkenan memberikan kedamaian kepada Anda. Ayah anda pergi meninggalkan dunia ini, aku dilarang makan dan minum. Dambaku terhadap Rosulullah semangkin tinggi. Aku telah menetapkan untuk-dalam-waktu singkat-pergi menuju alam lain, menuju sisi Rosulullah. Apakah anda memerintahkan sesuatu kepadaku?" Fatimah menangis tersedu, ia rangkul leher unta, mencium kedua matanya seraya berkata: "Hai 'Abda', Ucapkan salam kepada ayahku." Fatimah-cahaya Rosulullah, tidak mampu lagi menanggung keterpisahan ini. Lalau terisak Fatimah melanjutkan, "Aku meminta engkau memberi tahu ayahku agar berkenan membawa diriku disisi beliau." Sang unta menjawab: Baiklah, hamba akan mengingat dan melaksanakannya,"

Abda mencium kaki putri kekasih Allah itu dan meninggalkannya dan kembali menuju meskid Nabi saw. Ia memandang ruang tempat Rosulullah sholat. Tak ala ia bersuara dan menyandarkan kepalanya di bebatuan besar.

Kemudian Fatimah melihat Rosulullah di dalam mimpi. "Ya Fatimah, cahaya kedua mataku, aku ingin berjumpa denganmu, aku merindukanmu. Esok hari engkau akan datang kepadaku." Pada pagi hari, ia berdiri dengan hati berbunga di hadapan hadirat Allah SWT untuk shalat, lalu membasuh dan menyisir Imam Husein dan Imam Husein (yang dikemudia hari menjadi Martir), dan memberi mereka busana baru yang mereka kenakan. Ia memebresihkan rumah Imam Ali Sang Terpilih.

Ketika Imam Ali tiba di rumah, ia terpesona melihat istrinya sangat gembira. Imama Ali bertanya alasan kebahagiaannya, tapi Fatimah tidak menjawab. Fatimah lalu menyiapkan hidangan, lalu mereka makan pagi bersama. "Ya Fatimah, kata ALi Sang Terpilih, berbicaralah kepadaku, demi Allah. KAu tidak pernah melihatmu demikian bahagia semenjak kepergian Rosulullah. Apakah gerangan?"

Fatimah menjawab, "Duhai pemabawa Air Kausar dan Pemegang Khaibar. Duhai suamiku, kita akan berjumpa lagi di Hari Kebangkitan. Aku bermimpi tentang sebuah lawatan indah. Malam kemarin aku melihat ayahku tercinta. Beliau memanggilku agar aku berada di sampingnya, dan hari ini aku meminta izin kepadamu. Aku meminta izin kepadamu untuk membebaskan aku dari kewajiban-kewajibanku dan aku menyerahkan diriku kepada Allah dan selanjutnya kepadamu tentang pengasuhan anak kita Hasan dan Husein. Rawatlah mereka dengan baik. Perlakukan mereka dengan cinta kasih yang sabar dan keramahan. Jangan beritahu mereka bahwa aku tidak lama lagi berada di dunia ini. Ya Ali, Aku menjadi anak yatim dua kali, kehilangan ibuku dan kemudian ayahku tercinta. Ingatlah aku dan lakukanlah sholat untukku setiap kali engkau melihat anak yatim yang kesepian di dunia ini."

Mendengar ucapan ini dari Al Batul ra, Imam Ali tidak mampu menahan air matanya. Ia menangis, "Duhai cahaya mata Rosulullah, jangan mengeluhkan tentang diriku kepada ayahmu. Aku masih jauh dari mencukupi untuk memperlakukanmu sebagaimana yang pantas engkau terima. Aku fakir dan tidak mampu membahagiakamu. Jangan menyatakan hal tersebut untuk mengeluhkan tentang diriku."
Kemudian Imam Ali kw merangkulnya dengan lembut dan mereka meneteskan airmata. Hasan dan Husein pun turut larut dalam tangisan.

Artikel Terkait:

Post a Comment
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

PRAY TIME

Unta "Abda", Penyampai Salam Fatimah Kepada Ayah Tercinta, Rosulullah saw

Queen of Jannah, Fatimah Azzahra
Imam Ali and their children
Setelah Rosulullah memperoleh kehormatan di alam ukhrawi, Fatimah tidak mau makan dan minum, dan ia melupakan segala canda-ria dan kebahagiaan. Fatimah sepanjang siang dan malam menangis mengenang ayah tercinta yang telah wafat.


Ia mengisi waktu dengan air mata dan menarik nafas panjang seolah ada sesuatu yang menekan perasaannya dan tidak ada satu pun yang mampu menghapus kesedihannya. Sesaat ia menyelesaikan pekeerjaan rumah dan merawat suaminya Ali Karamallahu Wajhah dan putra-putra mereka, Hasan dan Husein, ia kembali meneteskan air mata dan bergumam: " Duhai ayah tercintaku, menegapa engkau meninggalkan Fatimahmu?"

Enam bulan berlalu dalam situasi seperti ini, Fatimah menjadi semangkin kurus, sampai-sampai tidak ada sesuatupun yang tersisa kecuali kulit dan tulang yang menyelimuti tubuhnya

Suatu malam kala kesedihan itu menjadi-jadi, dalam tangisan sedu, ia mendengar suara dari luar memanggil-manggil: "Duhai putri tercinta Rosulullah, duhai putri tercinta Rosulullah,!" Ia mengintip keluar, ia mengetahui bahwa yang didengarnya adalah suara 'Adda', nama unta Rosulullah yang telah kabur dari Madinah setelah beliau wafat.

Kepergian Nabi membuat 'Abda'-sang unta seperti kebingungan, ia kabur ke pegunungan dan padang pasir. Beberapa hari kemudian ia daang lagi ke Madinah dan berdiri di pintu gerbang Mesjid Nabi, memandangi ruang tempat shalat Rosulullah, tetapi ia tidak menemukan Rosul. Ia meringkik dan mengeluarkan suara yang dalam emngusap-ngusapkan mukanya ke tanah dan meneteskan air mata dan kemudian berlari lagi ke padang pasir yang sunyi.

Kini unta itu telah tiba di depan pintu rumah Fatimah ra. dan berbicara dengan bahasa yang fasih:
"Hai putri Rosulullah! Mudah-mudahan Allah berkenan memberikan kedamaian kepada Anda. Ayah anda pergi meninggalkan dunia ini, aku dilarang makan dan minum. Dambaku terhadap Rosulullah semangkin tinggi. Aku telah menetapkan untuk-dalam-waktu singkat-pergi menuju alam lain, menuju sisi Rosulullah. Apakah anda memerintahkan sesuatu kepadaku?" Fatimah menangis tersedu, ia rangkul leher unta, mencium kedua matanya seraya berkata: "Hai 'Abda', Ucapkan salam kepada ayahku." Fatimah-cahaya Rosulullah, tidak mampu lagi menanggung keterpisahan ini. Lalau terisak Fatimah melanjutkan, "Aku meminta engkau memberi tahu ayahku agar berkenan membawa diriku disisi beliau." Sang unta menjawab: Baiklah, hamba akan mengingat dan melaksanakannya,"

Abda mencium kaki putri kekasih Allah itu dan meninggalkannya dan kembali menuju meskid Nabi saw. Ia memandang ruang tempat Rosulullah sholat. Tak ala ia bersuara dan menyandarkan kepalanya di bebatuan besar.

Kemudian Fatimah melihat Rosulullah di dalam mimpi. "Ya Fatimah, cahaya kedua mataku, aku ingin berjumpa denganmu, aku merindukanmu. Esok hari engkau akan datang kepadaku." Pada pagi hari, ia berdiri dengan hati berbunga di hadapan hadirat Allah SWT untuk shalat, lalu membasuh dan menyisir Imam Husein dan Imam Husein (yang dikemudia hari menjadi Martir), dan memberi mereka busana baru yang mereka kenakan. Ia memebresihkan rumah Imam Ali Sang Terpilih.

Ketika Imam Ali tiba di rumah, ia terpesona melihat istrinya sangat gembira. Imama Ali bertanya alasan kebahagiaannya, tapi Fatimah tidak menjawab. Fatimah lalu menyiapkan hidangan, lalu mereka makan pagi bersama. "Ya Fatimah, kata ALi Sang Terpilih, berbicaralah kepadaku, demi Allah. KAu tidak pernah melihatmu demikian bahagia semenjak kepergian Rosulullah. Apakah gerangan?"

Fatimah menjawab, "Duhai pemabawa Air Kausar dan Pemegang Khaibar. Duhai suamiku, kita akan berjumpa lagi di Hari Kebangkitan. Aku bermimpi tentang sebuah lawatan indah. Malam kemarin aku melihat ayahku tercinta. Beliau memanggilku agar aku berada di sampingnya, dan hari ini aku meminta izin kepadamu. Aku meminta izin kepadamu untuk membebaskan aku dari kewajiban-kewajibanku dan aku menyerahkan diriku kepada Allah dan selanjutnya kepadamu tentang pengasuhan anak kita Hasan dan Husein. Rawatlah mereka dengan baik. Perlakukan mereka dengan cinta kasih yang sabar dan keramahan. Jangan beritahu mereka bahwa aku tidak lama lagi berada di dunia ini. Ya Ali, Aku menjadi anak yatim dua kali, kehilangan ibuku dan kemudian ayahku tercinta. Ingatlah aku dan lakukanlah sholat untukku setiap kali engkau melihat anak yatim yang kesepian di dunia ini."

Mendengar ucapan ini dari Al Batul ra, Imam Ali tidak mampu menahan air matanya. Ia menangis, "Duhai cahaya mata Rosulullah, jangan mengeluhkan tentang diriku kepada ayahmu. Aku masih jauh dari mencukupi untuk memperlakukanmu sebagaimana yang pantas engkau terima. Aku fakir dan tidak mampu membahagiakamu. Jangan menyatakan hal tersebut untuk mengeluhkan tentang diriku."
Kemudian Imam Ali kw merangkulnya dengan lembut dan mereka meneteskan airmata. Hasan dan Husein pun turut larut dalam tangisan.

0 comments:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews